7 Book(s) Related to karen lynch books

Balas Dendam Manis karena Pengkhianatan

Balas Dendam Manis karena Pengkhianatan

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Autumn Winters
Obsesi Redaksi Bulan Ini: Dia ingin balas dendam. Yang dia temukan jauh lebih berbahaya: dirinya sendiri.

Saat pengkhianatan menghancurkan segalanya, balas dendam terasa seperti satu-satunya jawaban. Sampai ternyata bukan.

Alya mengira dia paham apa itu cinta. Empat tahun bersama Bagas rasanya seperti selamanya—nyaman, aman, bisa ditebak. Tapi ketika malam kencan pelan-pelan menghilang dan “darurat kerja” tengah malam makin sering, dia memilih menutup mata. Sampai dia nggak bisa lagi.

Satu lirikan ke ponsel Bagas mengubah semuanya. Pesan-pesan cabul. Foto-foto dari perempuan lain. Bukti kalau laki-laki yang dia percaya selama ini ternyata hidup dalam kebohongan.

Hancur dan mendidih oleh amarah, Alya ingin membalas. Sahabatnya, Citra, punya rencana yang menurutnya paling pas: tidur dengan sahabat Bagas, Rangga—satu-satunya laki-laki yang diam-diam bikin Bagas minder. Tampan, mapan, dan karismanya berbahaya, Rangga adalah semua hal yang Bagas pura-pura miliki.

Harusnya simpel. Satu malam. Satu aksi balas dendam. Habis itu dia pergi. Tapi nggak ada yang sederhana dari Rangga.

Saat Alya berdiri di depan pintu apartemennya, Rangga melihat lebih dari sekadar amarah. Dia melihat perempuan di baliknya—rapuh, menyala, memikat. Yang bermula dari balas dendam berubah menjadi sesuatu yang sama sekali nggak mereka duga. Dalam pelukan Rangga, Alya menemukan gairah yang bahkan dia nggak pernah tahu ada. Sebuah keterhubungan yang bikin dia takut. Perasaan yang bikin segalanya jadi rumit.

Sekarang Alya terjebak di antara balas dendam yang dia rencanakan dan laki-laki yang sama sekali nggak pernah dia niatkan untuk dicintai.

Karena batas antara pembalasan dan emosi yang nyata itu tipisnya mengerikan.

Dan begitu kamu melangkah melewatinya, nggak ada jalan untuk kembali.
Nona Muda dari Pedesaan Sangat Keren!

Nona Muda dari Pedesaan Sangat Keren!

688 Dilihat · Sedang Berlangsung · INNOCENT MUTISO
Lahir dengan kondisi tubuh yang lemah, Ariel Hovstad dibenci oleh keluarganya. Sejak Mrs. Kathleen Hovstad melahirkan sepasang anak kembar, Ariel dan Ivy Hovstad, dia terbaring di tempat tidur. Dia percaya bahwa Ariel membawa sial karena setiap kali dia berinteraksi dengannya, kesehatannya semakin memburuk. Karena takut terkena sial lagi, Mrs. Kathleen memerintahkan suaminya, Mr. Henry Hovstad, untuk menyingkirkan Ariel saat dia berusia tiga tahun.

Mr. Henry mengirimnya ke pedesaan untuk tinggal bersama kerabat jauh; neneknya. Bertahun-tahun kemudian, neneknya meninggal, dan Ariel terpaksa kembali ke keluarganya. Semua orang di rumah melihatnya sebagai musuh, jadi dia dibenci. Dia hanya berada di kamarnya atau di sekolah.
(Di kamarnya pada malam hari, ponselnya tiba-tiba berdering)

Orang X: Hei bos, apa kabar? Kangen nggak sama aku? Oh, keluargamu baik-baik aja kan? Bos, akhirnya kamu ingat aku, huhuhu..
Ariel: Kalau nggak ada yang penting, aku tutup ya.
Orang X: Hei bos, tunggu, aku-

Apa yang terjadi dengan dia yang seharusnya jadi anak kampung? Bukannya dia seharusnya miskin dan tidak diinginkan? Kenapa ada yang menjilat seperti...bawahan?

Suatu pagi yang cerah saat dia menuju sekolah, seorang asing yang tampak seperti dewa Yunani tiba-tiba muncul, dingin, kejam, workaholic, dan menjaga jarak dari semua wanita. Namanya Bellamy Hunters. Mengejutkan semua orang, dia menawarkan tumpangan ke sekolah. Bukannya dia seharusnya membenci wanita? Apa yang sebenarnya terjadi?

Si workaholic yang dulu dikenal tiba-tiba punya banyak waktu luang, yang dia gunakan untuk mengejar Ariel. Setiap komentar negatif tentang Ariel selalu dibantah olehnya.

Suatu hari sekretarisnya datang dengan sebuah berita: "Bos, Nona Ariel mematahkan lengan seseorang di sekolah!"

Si bos besar hanya mencemooh dan menjawab, "Omong kosong! Dia terlalu lemah dan penakut! Nyamuk aja nggak bisa dia bunuh! Siapa yang berani bikin rumor seperti itu?"
Istri Terbuang Membalas Dendam

Istri Terbuang Membalas Dendam

340 Dilihat · Sedang Berlangsung · Freya Brooks
Setelah sepuluh tahun menikah, Hollis Meyer percaya bahwa dia telah menemukan suami yang luar biasa. Sedikit yang dia tahu, suaminya akan membawanya ke jalan kehancuran! Dengan menyamar sebagai pernikahan, dia memanipulasi emosinya, merencanakan untuk mengambil kekayaannya, dan bahkan memusnahkan seluruh keluarga Meyer, semua demi sekejap cinta sejati.

Namun, takdir campur tangan dengan pembunuhan yang direncanakan dengan cermat, mengirimnya kembali sepuluh tahun ke masa lalu! Dalam kehidupan baru ini, dia bersumpah untuk menghancurkannya sepenuhnya, menghapus garis keturunannya hingga menjadi abu, dan mengutuk kekasihnya dengan kemalangan tanpa akhir.

Dia berjanji untuk membalas dendam seratus kali lipat pada semua orang yang telah menyakitinya!
Dan begitu, tindakan pertamanya setelah terlahir kembali adalah menolak rayuan si brengsek itu dan dengan tegas menikahi musuh bebuyutannya dari kehidupan sebelumnya—seorang taipan terkemuka yang seharusnya tidak dia ganggu kali ini!

Dia mengira pernikahan mereka akan didorong oleh nafsu daripada kasih sayang, tetapi yang mengejutkannya, taipan itu menghujaninya dengan cinta dan pengabdian tanpa batas setelah mereka menikah.
Dewa Medis Turun Gunung

Dewa Medis Turun Gunung

440 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Brooks
Pewaris Tian Dao Yi Men dari Gunung Long Hu, Yang Hao, turun gunung atas perintah gurunya untuk mengobati orang sakit. Dengan kondisi bawaan lahir yang langka, ia memulai karirnya sebagai dokter magang di rumah sakit. Berbekal keterampilan medis dan kemampuan ramalannya, ia perlahan-lahan mengumpulkan pahala dan mencapai puncak hidupnya. Dia dengan tegas mengalahkan anak-anak kaya yang sombong dan menikmati kehidupan dengan wanita-wanita cantik yang luar biasa.
Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

716 Dilihat · Sedang Berlangsung · Vivian Brooks
“Pernah nggak sih… kamu beneran cinta sama aku?” tanya Summer Hayes suatu kali pada suaminya.

Kieran Cross tak pernah menjawab.

Selama dua tahun, Summer hidup dengan keyakinan kalau pernikahan mereka cuma bentuk balas dendam. Sentuhan Kieran dingin seperti es, genggamannya selalu terasa seperti belenggu, dan diamnya… tajam, seolah bisa melukai tanpa perlu kata-kata. Cowok kaya raya yang dulu ia anggap tak terlihat saat SMA akhirnya membuatnya membayar semuanya.

Sampai malam saat Kieran mati demi menyelamatkannya.

Ketika yacht mereka miring lalu tenggelam, ombak membekukan menampar wajah Summer tanpa ampun. Lampu-lampu di atas geladak padam satu per satu, berubah jadi titik-titik redup di balik kabut asin. Di tengah kekacauan—teriakan, bunyi logam beradu, aroma bahan bakar—Kieran mendorongnya ke perahu penyelamat.

Dengan paksa.

Dengan tenaga terakhir.

Ada darah di bibirnya, merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya tetap menahan Summer, seolah tak mau melepas walau laut menarik tubuhnya ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—untuk pertama kalinya selama Summer mengenal Kieran—mulut itu membentuk kalimat yang selalu ia tunggu, kalimat yang tak pernah sekalipun ia dengar.

“Aku cinta kamu.”

Summer baru benar-benar mengerti saat semuanya terlambat.

Saat perahu penyelamat menjauh, dan sosok Kieran tersapu gelombang, lenyap dalam dingin yang tak berujung.

Tiga tahun kemudian, Summer hidup seperti cangkang kosong. Duka menggumpal di dadanya, tak pernah benar-benar turun, sementara ingatan malam itu terus menghantamnya di waktu-waktu yang paling tak siap. Suara air, bau garam, rasa sesak—semuanya datang mendadak, menelan napasnya. PTSD membuatnya sulit tidur, sulit makan, sulit percaya bahwa ia masih berhak hidup.

Lalu suatu hari, saat jalanan basah dan lampu-lampu kendaraan berpendar di kaca, dunia berputar terlalu cepat.

Mobilnya menabrak.

Benturan keras. Gelap. Sunyi.

Dan saat Summer membuka mata—

Ia ada di kamar yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Dinding dengan poster lama, meja belajar penuh buku, aroma sabun laundry yang dulu selalu dipakai ibunya. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak liar.

Ia menoleh.

Di cermin, wajahnya… muda. Terlalu muda. Pipi masih penuh, mata masih menyimpan naivete yang seharusnya sudah lama mati. Tubuhnya kecil, tangan ini tangan remaja.

Enam belas.

Summer menahan napas saat mendengar suara dari luar kamar.

Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan sampai rasanya bisa gila.

Ibunya.

Masih hidup.

Kaki Summer lemas. Ia hampir jatuh hanya karena satu kenyataan itu. Dunia yang dulu merebut terlalu banyak darinya—kali ini mengembalikan sesuatu yang mustahil.

Namun ada satu hal lagi yang membuat tengkuknya merinding.

Kieran.

Kieran Cross yang ia kenal—suaminya, miliarder yang tak tersentuh, pria dengan jas mahal dan tatapan yang tak pernah benar-benar hangat—belum menjadi siapa-siapa.

Di usia ini, Kieran bukan penguasa yang membuat orang menunduk. Ia hanyalah anak beasiswa yang semua orang anggap tidak penting. Yang duduk di ujung kelas. Yang menunduk saat berjalan, seolah berharap tak ada yang melihatnya.

Pendiam.

Kelelahan.

Dan terlalu kurus, seolah sengaja menahan lapar demi seseorang.

Summer segera mengingat detail-detail yang dulu tak pernah ia pedulikan—karena dulu ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kieran punya adik perempuan kecil yang tuli. Dan Kieran bekerja apa saja, mengambil shift tambahan, menahan kantuk, menahan lapar, agar adiknya tetap bisa makan… tetap bisa sekolah… tetap bisa bertahan.

Sementara semua orang? Menertawakan sepatu lusuhnya. Mengabaikan keberadaannya. Menganggapnya cuma “anak miskin” yang kebetulan numpang belajar di sekolah mereka.

Summer menelan ludah saat bayangan masa depan menghantamnya: Kieran yang kelak menjadi pria yang dingin, keras, dan penuh rahasia. Kieran yang memeluknya tanpa pernah benar-benar memberi tempat aman. Kieran yang mati untuknya—dan baru mengucapkan “aku cinta kamu” di detik terakhir hidupnya.

Kalau ini kesempatan kedua…

Kalau takdir benar-benar memberinya kesempatan—

Maka kali ini, ia tak akan membiarkan Kieran menjalani hidup sendirian.

Hari pertama ia kembali ke sekolah, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Lorong ramai, tawa, geng-geng kecil yang dulu ia kenal. Tapi pandangan Summer tak mencari siapa pun selain satu nama.

Dan ia menemukannya.

Kieran duduk di bus sekolah, berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya dekat dada. Tatapannya menelusuri bangku-bangku yang sudah terisi—tempat yang tak pernah disisakan untuknya. Anak-anak lain berpura-pura tak melihat, ada yang sengaja memalingkan wajah, ada yang menyeringai kecil.

Tak ada satu pun yang menawarkan kursi.

Summer merasakan dada panas, bukan karena marah saja, tapi karena rasa bersalah yang menumpuk seperti utang.

Dulu, ia juga salah satu dari mereka.

Dulu, ia juga memilih diam.

Kali ini tidak.

Summer melangkah masuk, menembus kerumunan, dan duduk di bangku kosong sebelah jendela. Ia menoleh pada Kieran—pada anak laki-laki yang suatu hari akan menjadi suaminya, pada pria yang mati demi dirinya—lalu menepuk kursi di sebelahnya.

“Duduk sini,” kata Summer, suaranya tegas tapi lembut. “Masih kosong.”

Kieran seperti tak percaya. Matanya menatap Summer sejenak, bingung, ragu, seolah khawatir ini cuma lelucon. Ia menelan ludah, lalu duduk perlahan, tubuhnya kaku seperti siap kabur kapan saja.

Summer memandang lurus ke depan, tapi hatinya bergetar.

Karena ia tahu apa yang dipertaruhkan.

Di hidup ini, ia akan menyelamatkan Kieran—bukan hanya dari kelaparan, kelelahan, dan kesepian, tapi dari masa depan yang membentuknya jadi pria yang begitu hancur sampai cinta pun ia simpan sebagai senjata.

Namun semakin dekat Summer dengan Kieran, semakin besar kemungkinan ia mengorek kebenaran yang dulu tersembunyi rapi: alasan Kieran menjadi seperti itu, alasan kebenciannya terasa seperti cinta yang salah arah, dan alasan mengapa… setiap kali Kieran mencintainya, ujungnya selalu tragedi.

Dan Summer tak tahu mana yang lebih menakutkan—

Menyelamatkan Kieran…

atau mengetahui bahwa takdir selalu meminta bayaran saat mereka saling jatuh cinta.
1