“Aku mau memiliki lo, Stroberi—semuanya. Dari dulu juga begitu. Setiap napas, setiap ciuman, setiap pikiran… semuanya harus jadi milik gue, karena gue pengin. Apa pun yang gue putusin buat gue lakuin ke lo, itu hak gue. Kapan pun gue mau lo ada di ranjang gue, lo harus datang. Lo nggak boleh bilang enggak.”
Tatapannya menyipit saat dia menatapku dari atas, lidahnya menyapu bibir sendiri seakan mencicipinya, dan taringnya sempat berkilat.
“Kalau lo setuju, gue nggak bakal biarin mereka nyakitin lo. Jangan sentuh siapa pun, jangan bilang siapa pun. Lakuin setiap hal kecil yang gue perintah, dan lo aman. Jadi rahasia kotor kecil gue aja, Stroberi. Seperti yang selalu terjadi. Iya? Atau nggak?”
Tubuhku bergetar halus.
“Tapi soal jodoh itu… gimana kalau—”
“IYA ATAU NGGAK?!”
Mataku terpejam rapat. Suaraku jatuh jadi bisik yang nyaris tak terdengar.
“Iya…”
Dulu, ada seorang gadis kecil yang punya segala hal yang bisa dia minta. Dia boleh dibilang putri—tanpa mahkota dan tanpa gelar resmi. Anak dari seorang Alfa dan Luna, dia dianggap cantik, disayang, dipuja. Katanya, dia cahaya dalam hidup orang tuanya—atau setidaknya, begitu yang dia percaya.
Sampai hari ketika putri mereka yang sebenarnya ditemukan, lalu dibawa pulang… oleh orang yang sama sekali tak dia sangka: anak laki-laki yang dulu dia panggil kakaknya sendiri.
Sejak saat itu, dia bukan apa-apa.
Hanya seorang anak yatim tanpa nama.
Setiap hari dihukum, dipaksa membayar harga atas hidup yang pernah dia jalani—hidup yang ternyata bukan miliknya.
Dan ketika kakak yang dulu jadi sandarannya, kini berubah jadi Alfa yang kuat—orang yang pada akhirnya menghancurkan dirinya—pulang ke rumah, dia tahu dia harus kabur. Karena dia sama saja seperti keluarga itu: dingin, kejam, dan tak ada kemungkinan dia bisa bertahan dari kebencian yang dibawanya.
Tanpa dia sadari, justru dialah alasan kenapa laki-laki itu pergi sejak awal.
Digerakkan oleh rasa malu—dan hasrat gelap yang bengkok untuk memilikinya—dia tak pernah berniat pulang. Tapi sekarang, karena dia sudah kembali, gadis itu cuma punya dua pilihan kalau ingin tetap hidup…
Lari sejauh dan secepat mungkin…
Atau menyerahkan apa yang dia inginkan—dan menjadi rahasia kotor kecilnya…
Masalahnya… laki-laki itu mungkin saja juga jadi rahasia kotor kecilnya.