3 Book(s) Related to dwarf fortress possessed by unknown forces

Bapak Forbes

Bapak Forbes

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Ratu Para Serigala

Ratu Para Serigala

677 Dilihat · Sedang Berlangsung · unknown author
Cinta itu perasaan yang suci. Campuran antara percaya dan keyakinan, yang bisa dirasakan semua makhluk. Tapi bagaimana kalau orang yang paling kamu cintai justru menikammu dari belakang?

Amara Dale dikenal sebagai prajurit perempuan terbaik di klannya. Di medan laga, tak ada yang meragukan ketegasan dan keberaniannya. Namun keberanian tidak membuatnya kebal terhadap satu hal yang selalu ditakuti para serigala betina: menjadi yang ditolak saat Bulan Kawin.

Ketika pasangan takdirnya menampiknya, Amara ikut jatuh ke lubang yang sama—pengkhianatan yang rasanya seperti merobek dada, siksaan yang membuat napasnya sendiri terasa tajam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana para betina lain yang ditolak kehilangan cahaya di mata mereka. Dan kini, giliran Amara meraba-raba gelap itu.

Butuh waktu lama baginya untuk menerima penolakan itu sebagai kenyataan. Hari-hari berlalu dengan rasa sakit yang menempel di kulit seperti bau darah yang tak mau hilang. Ia belajar berjalan tanpa sandaran, belajar tersenyum tanpa benar-benar merasa utuh. Ia bertahan, karena itulah yang dilakukan prajurit.

Sampai suatu hari, Dewan Kebangsawanan menurunkan titah yang mengubah arah hidupnya.

Amara ditugaskan menjadi pelindung Damien Hilton—Raja Alfa.

Tak ada yang lebih berat daripada menjaga seseorang yang hidupnya menjadi tumpuan begitu banyak klan. Dan tak ada yang lebih asing bagi Amara daripada berada begitu dekat dengan kekuasaan yang selama ini hanya ia dengar lewat bisik-bisik: sang pemimpin para pemimpin, serigala yang namanya disebut dengan hormat dan takut.

Amara sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa tugas itu akan menyeretnya pada takdir kedua.

Ia tak pernah menduga akan bertemu pasangan keduanya—dan ternyata sosok itu adalah pemimpin yang harus ia lindungi. Dalam mimpi paling liarnya, Amara tak pernah melihat dirinya berdiri sebagai Luna sang Raja Alfa.

Lalu, apa yang menantinya ketika ia harus melangkah bukan lagi sebagai prajurit… melainkan sebagai Ratu para Serigala?
Obat untuk Sang Miliarder

Obat untuk Sang Miliarder

240 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leah Flores
“Lo tau nggak? Muka lo kalau lagi main catur tuh kayak orang mau ngebunuh,” gue ketawa kecil, sambil ngejepit rajanya. “Skakmat.”

Di detik itu juga, gue nangkep kilat kaget di matanya—lalu sesuatu yang gelap, pekat, yang gue sendiri nggak bisa nebak artinya.

Dia berdiri mendadak. Badannya yang tinggi bikin napas gue serasa ketahan, bayangannya jatuh menutup gue. “Nggak ada yang menang di permainan gue, Nona Valencia. Nggak ada.”


Oliver Kang, dua puluh delapan tahun, pengusaha muda tajir yang namanya disebut-sebut orang seolah uang punya bau sendiri. Di balik sikapnya yang dingin dan rapi kayak baja, dia nyimpen rahasia yang nggak bisa dia beli atau suap: kondisi langka yang bikin sentuhan manusia jadi siksaan. Kulit orang lain, bahkan cuma kena sekilas, bisa memantik nyeri yang merambat cepat, bikin tubuhnya menolak. Akhirnya dia hidup sendirian di tengah kemewahan, dikelilingi orang tapi nggak pernah benar-benar disentuh siapa pun.

Dunia yang dia susun dengan perhitungan milimeter itu retak pada satu malam—malam ketika dia memergoki Dallas Valencia sedang nyelonong di rumah besarnya, berusaha ngambil sesuatu yang bukan miliknya.

Kesepakatannya sederhana, tanpa ruang tawar: kerja jadi ART di rumahnya atau berurusan sama polisi.

Tapi semuanya berubah waktu Oliver nemuin sesuatu yang mustahil. Sentuhan Dallas—yang seharusnya bikin dia meringis, menarik diri, kesakitan—nggak memicu reaksi apa pun. Nggak ada nyeri. Nggak ada panas. Nggak ada tubuhnya yang menjerit minta lepas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dinding yang dia bangun rapi mulai rapuh.

Dallas Valencia nggak pernah berencana jadi ART pribadi miliarder paling dingin di kota. Rekeningnya kosong, dompetnya tipis, dan harga dirinya keras kepala. Dia nerima ultimatum itu dengan gigi terkatup, berniat bertahan dari arogansinya sampai dia bisa kabur dan balik ngatur hidupnya sendiri. Yang nggak pernah dia bayangin: dia justru jadi satu-satunya orang yang bisa nyentuh Oliver tanpa bikin pria itu tersiksa—jadi semacam penawar untuk penyakit yang udah ngurung Oliver seumur hidup.

“Apa yang lo lakuin ke gue?” suatu malam dia menjebak gue di antara tubuhnya dan dinding, suaranya rendah, serak, bikin bulu kuduk gue berdiri. “Kenapa cuma lo?”
1