6 Book(s) Related to diamond smith yvette

Suami Superhero

Suami Superhero

916 Dilihat · Sedang Berlangsung · James Smith
James awalnya adalah menantu yang dibenci dan dianggap tidak berguna, dicemooh oleh semua orang. Suatu hari, dia tiba-tiba berubah menjadi pahlawan super, mendapatkan kekuatan untuk mengendalikan hidup dan mati...
Hanya Cinta, Bukan Hasrat

Hanya Cinta, Bukan Hasrat

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · James Smith
Awal hubungan antara Petugas Medis Penerbangan Yvette Orlando dan Kapten Albert Valdemar adalah sebuah kesalahan. Albert hanya menikmati keintiman fisik dengan Yvette, sementara Yvette menipu dirinya sendiri dengan mencari cinta dari Albert. Pernikahan mereka, yang dipicu oleh kehamilan Yvette, ternyata menjadi awal yang salah. Yvette kehilangan segalanya dalam pernikahan ini, dan ketika dia pergi, dia bahkan tidak menerima perpisahan yang layak dari Albert.

Albert selalu mengira bahwa Yvette, yang patuh dan pengertian, tidak akan pernah meninggalkannya seumur hidup. Baru ketika Yvette benar-benar pergi, menghilang begitu total sehingga Albert tidak bisa menemukannya meskipun sudah berusaha keras, dia akhirnya merasakan penyesalan.

Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu lagi. Yvette sedang bercanda dan menggoda dengan orang lain.
Seseorang bertanya kepada Yvette, "Kenapa pernikahan pertamamu berakhir?"
Yvette menjawab, "Karena menjadi janda."
Tidak bisa menahan diri lagi, Albert maju, menyudutkan Yvette ke dinding: "Yvette, apa kamu benar-benar berpikir aku sudah mati?"
Kaya Seperti Negara

Kaya Seperti Negara

561 Dilihat · Sedang Berlangsung · James Smith
Aku menikahi seorang istri yang cantik, dan pria-pria lain iri padaku. Mereka selalu menyusahkanku, memanggilku pecundang, dan bilang aku tidak pantas bersamanya. Bahkan istriku sendiri meremehkanku.

Tapi yang mereka tidak tahu adalah aku memiliki kekayaan triliunan rupiah, harta yang bisa menyaingi negara! Bukan hanya itu, aku juga punya keahlian medis yang bisa menghidupkan orang mati, mampu menyelamatkan nyawa siapa pun!
Sang CEO Miliarder, Submisif Sempurna

Sang CEO Miliarder, Submisif Sempurna

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Miracle Desmond
“Berdiri dan buka semua, sekarang!” perintahnya. Tanpa ragu, aku menanggalkan pakaianku satu per satu. Aku berdiri telanjang bulat di hadapannya, kemaluanku menegang, mengarah lurus ke dirinya seolah menantang.

“Kamu yakin siap melakukan ini? Sekali mulai, kamu nggak berhenti sampai aku keluar, dan aku mau kamu telan semuanya. Paham?”

“I-iya, Tuan,” jawabku tercekat, napasku gemetar.

“Bagus. Anak baik. Sekarang, isap,” perintahnya.


Yang diinginkan Nelson cuma satu: melupakan pengalaman buruk itu. Melupakan bagaimana ia diperkosa dua lelaki di kamar mandi sebuah kelab malam—malam yang terus menghantuinya, menempel di kulit dan ingatan seperti bau alkohol yang nggak mau hilang.

Ia pergi. Meninggalkan kota lamanya, meninggalkan sudut-sudut yang memaksanya mengingat. Ia pindah ke kota baru dengan harapan sederhana: mulai dari nol, hidup normal, tidur tanpa mimpi buruk. Hari-harinya ia isi dengan rutinitas, kerja, dan jarak aman dari siapa pun yang terlalu dekat.

Sampai ia bertemu Lucius.

Kakak dari salah satu muridnya—lebih tua, lebih tenang, tapi ada sesuatu dari tatapannya yang membuat Nelson merasa seperti sedang diukur, dinilai, dipetakan batas-batasnya. Pertemuan itu singkat, seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa sejak saat itu, hidup Nelson bergeser—perlahan namun pasti—seolah ada tangan yang memutar arah kompasnya tanpa izin.

Lucius bukan tipe lelaki yang meminta. Ia mengambil. Dominan, terbiasa memegang kendali atas orang-orang yang ia sebut miliknya. Ia suka aturan, suka kepatuhan, dan ia menuntutnya dengan ketegasan yang nyaris kejam. Mengatur sampai hal-hal paling kecil, menekan sampai yang tersisa cuma pilihan untuk menyerah.

Lucius adalah sosok yang berbahaya bagi orang yang ingin merasa aman.

Tapi justru di dekatnya, Nelson mulai bertanya-tanya: apakah yang ia cari selama ini benar-benar “normal”—atau sekadar cara lain untuk bersembunyi?

Akankah Nelson mampu menjinakkan “binatang” itu?

Akankah ia sanggup menaruh masa lalunya di belakang, lalu menyerahkan dirinya sepenuhnya—tanpa sisa, tanpa kebohongan?

Dan ketika semuanya runtuh dan mereka saling menelanjangi luka masing-masing, akankah mereka menemukan penutup yang mereka butuhkan dalam pelukan satu sama lain?
1