2 Book(s) Related to diamond poem

Terikat Pada Paman Tiri Mafia-ku

Terikat Pada Paman Tiri Mafia-ku

908 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ruth Poe
Alya sejak dulu selalu jadi anak yang seolah tak terlihat—nggak diinginkan, nggak dicintai, dan terus-menerus tenggelam di bawah bayang-bayang kakaknya yang serba sempurna. Tapi begitu dia bertemu mereka, semuanya berubah.

Matteo, Enzo, dan Dante Moretti kaya, berpengaruh, dan berbahaya dalam cara yang bikin susah nolak. Tatapan mereka menempel padanya seakan-akan dia milik mereka. Sentuhan mereka jatuh begitu saja, seperti mereka sama sekali nggak bisa menahan diri. Dan saat mereka memutuskan mereka menginginkannya, kata tidak bukan jawaban.

Alya tahu itu salah. Secara teknis, mereka om tiri. Orang-orang juga suka berbisik—katanya mereka penjahat. Dan cara mereka “main” terlalu keras, terlalu liar. Tapi ketika Alya ada di pelukan mereka, ketika bisikan-bisikan kotor itu merayap di telinganya dan mereka memaksanya memohon untuk ditambah lagi… dunia di luar jadi nggak ada artinya.

Tapi mencintai mereka selalu ada harganya. Rahasia dari masa lalu Alya siap menyeretnya jatuh, dan musuh-musuh keluarga Moretti sudah menunggu celah untuk menjadikannya senjata. Alya terjepit di antara bahaya dan hasrat, tapi ada satu hal yang dia tahu pasti—dia memang nggak pernah ditakdirkan selamat dari mereka.

Dia ditakdirkan jadi milik mereka.
Sang CEO Miliarder, Submisif Sempurna

Sang CEO Miliarder, Submisif Sempurna

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Miracle Desmond
“Berdiri dan buka semua, sekarang!” perintahnya. Tanpa ragu, aku menanggalkan pakaianku satu per satu. Aku berdiri telanjang bulat di hadapannya, kemaluanku menegang, mengarah lurus ke dirinya seolah menantang.

“Kamu yakin siap melakukan ini? Sekali mulai, kamu nggak berhenti sampai aku keluar, dan aku mau kamu telan semuanya. Paham?”

“I-iya, Tuan,” jawabku tercekat, napasku gemetar.

“Bagus. Anak baik. Sekarang, isap,” perintahnya.


Yang diinginkan Nelson cuma satu: melupakan pengalaman buruk itu. Melupakan bagaimana ia diperkosa dua lelaki di kamar mandi sebuah kelab malam—malam yang terus menghantuinya, menempel di kulit dan ingatan seperti bau alkohol yang nggak mau hilang.

Ia pergi. Meninggalkan kota lamanya, meninggalkan sudut-sudut yang memaksanya mengingat. Ia pindah ke kota baru dengan harapan sederhana: mulai dari nol, hidup normal, tidur tanpa mimpi buruk. Hari-harinya ia isi dengan rutinitas, kerja, dan jarak aman dari siapa pun yang terlalu dekat.

Sampai ia bertemu Lucius.

Kakak dari salah satu muridnya—lebih tua, lebih tenang, tapi ada sesuatu dari tatapannya yang membuat Nelson merasa seperti sedang diukur, dinilai, dipetakan batas-batasnya. Pertemuan itu singkat, seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa sejak saat itu, hidup Nelson bergeser—perlahan namun pasti—seolah ada tangan yang memutar arah kompasnya tanpa izin.

Lucius bukan tipe lelaki yang meminta. Ia mengambil. Dominan, terbiasa memegang kendali atas orang-orang yang ia sebut miliknya. Ia suka aturan, suka kepatuhan, dan ia menuntutnya dengan ketegasan yang nyaris kejam. Mengatur sampai hal-hal paling kecil, menekan sampai yang tersisa cuma pilihan untuk menyerah.

Lucius adalah sosok yang berbahaya bagi orang yang ingin merasa aman.

Tapi justru di dekatnya, Nelson mulai bertanya-tanya: apakah yang ia cari selama ini benar-benar “normal”—atau sekadar cara lain untuk bersembunyi?

Akankah Nelson mampu menjinakkan “binatang” itu?

Akankah ia sanggup menaruh masa lalunya di belakang, lalu menyerahkan dirinya sepenuhnya—tanpa sisa, tanpa kebohongan?

Dan ketika semuanya runtuh dan mereka saling menelanjangi luka masing-masing, akankah mereka menemukan penutup yang mereka butuhkan dalam pelukan satu sama lain?
1