3 Book(s) Related to cum mouth gag

Lagu Cinta (GXG)

Lagu Cinta (GXG)

998 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sarah Radi
Alya mengambil keputusan yang, buat orang-orang di kampungnya, terdengar nekat: meninggalkan hidup pedesaan yang tenang dan pindah ke Jakarta untuk kuliah di sekolah musik yang namanya sudah lama ia simpan rapat-rapat dalam kepala.

Kota menyambutnya bukan dengan pelukan, melainkan dengan harga kos yang bikin dada sesak, uang makan yang cepat habis, dan jadwal latihan yang menuntut tenaga sampai ujung. Alya sadar, mimpi saja nggak cukup. Ia butuh cara buat bertahan.

Maka ia menerima tawaran gabung dengan sebuah band yang rutin manggung di bar LGBT dekat kawasan Blok M. Lampu temaram, tawa yang meledak di sela musik, dan orang-orang yang datang untuk menjadi diri sendiri—semuanya terasa asing sekaligus menghangatkan. Di sana, Alya belajar membaca penonton, menahan grogi, dan tersenyum meski kakinya pegal serta kepalanya penuh hitungan.

Ia mengira hidupnya akan berputar di sekitar kelas, kos sempit, dan panggung kecil dengan set-list yang harus dihafal. Ia sama sekali nggak menyangka, satu malam biasa bisa mengubah arah segalanya.

Malam itu, di sela jeda lagu, Alya turun dari panggung untuk minum. Dari sudut ruangan, ia menangkap sosok perempuan dengan setelan rapi yang terlalu kontras dengan kerumunan. Tatapannya tajam, wajahnya tenang, seolah sedang menilai dunia tanpa perlu ikut berisik. Perempuan itu menatap panggung, lalu sekilas mata mereka bertemu.

Alya sempat menunduk, berusaha mengabaikannya. Tapi detik itu sudah terlanjur menempel, seperti nada yang salah namun malah jadi terus teringat.

Namanya Clara—seorang jaksa yang namanya kerap muncul di berita, terkenal dingin di ruang sidang, dan entah bagaimana juga dikenal sebagai perempuan yang gampang membuat orang jatuh… lalu patah.

Dan Alya, yang datang ke kota cuma ingin mengejar musik, belum tahu bahwa pertemuan itu adalah awal dari belokan yang tidak pernah ia rencanakan.
Jatuh Cinta pada Penculikku

Jatuh Cinta pada Penculikku

1.2k Dilihat · Sedang Berlangsung · C.M Curtis
“Tolong… ambil aku.”

Kali ini kubisikkan tepat di daun telinganya. Dia sedikit bangkit, tangannya mencengkeram pinggulku lalu menarikku lebih keras menempel padanya. Semakin dalam dia masuk, semakin aku kehilangan kendali. Aku bisa merasakan dia menahan diri. Mungkin dia takut menyakitiku. Lebam-lebam itu—karena dia tahu sesuatu tentang masa laluku. Dia pikir dia harus memperlakukanku seolah aku rapuh, gampang pecah.

Aku menatap matanya lurus-lurus.

“Aku kuat,” kataku terengah. “Tolong… aku mau. Bikin aku jadi milik kamu.”

Sekarang aku benar-benar memohon. Kulihat wajahnya berubah ketika dia duduk lebih tegak dan mengangkat kedua kakiku lebih tinggi. Dan tiba-tiba, dia menghantam masuk tanpa ampun…


Saat Sari menikah dengan Rangga, dia mengira dirinya menikahi seorang pahlawan. Detektif polisi muda yang cerdas, kariernya menanjak, nama baiknya harum. Tapi tak butuh waktu lama sampai Sari sadar, dia keliru.

Yang dia dapat bukan pahlawan, melainkan lelaki narsis dan kasar—yang merasa punya dunia di bawah telapak tangan karena dukungan orang-orang kota dan institusinya sendiri. Semua orang seolah menutup mata. Sari terperangkap. Terkurung.

Sampai malam itu: jadwal bulanan ke bioskop—satu-satunya kegiatan yang “diizinkan” untuknya, dengan teman-teman yang boleh dia temui. Istri-istri detektif lain.

Di lorong gedung, Sari melihat seorang pria bersandar santai ke dinding. Tatapannya menempel padanya. Ada seberkas rasa mengenal saat Sari melewatinya—seperti kilatan ingatan yang nyaris tertangkap.

Lalu semuanya gelap.
Ratu Mafia Kembali

Ratu Mafia Kembali

770 Dilihat · Sedang Berlangsung · C.M Curtis
Aku megap-megap mencari napas, satu tangan mencengkeram dada, sementara adegan berdarah ketika selingkuhan mantan suamiku, Keli, menggorok leherku masih menyala jelas di kepala. Tapi sekarang… aku sudah kembali. Terlahir lagi.

Pria yang dulu kucintai mati-matian—pria yang bersamaku membangun kerajaan bisnis dari nol—dan perempuan simpanannya, Keli, menatapku dengan dagu terangkat, seolah aku yang mengganggu hidup mereka.

“Evelyn, ini Keli. Dia… dia hamil. Dia butuh bantuan kita. Kayaknya kita bisa nerima dia tinggal di sini.”

Evelyn yang dulu akan menangis, memohon, dan percaya pada sisa-sisa cinta—perempuan itu sudah mati. Yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah ratu yang pulang dari neraka, siap membakar habis kerajaan yang mereka banggakan.

“Tentu, Sayang,” kataku lembut, manis, tapi beracun. “Biar dia tinggal. Aku senang kok kalau musuhku ada di dekat-dekat.”

Raka mengembuskan napas lega, seolah baru lolos dari badai. Dia nggak tahu—kali ini aku bukan cuma akan menceraikannya. Aku akan mengambil anak buahnya, uangnya, harga dirinya, dan meninggalkan dia tanpa apa-apa selain penyesalan.
1