7 Book(s) Related to books about kidnapping and falling in love

Istri Terbuang Membalas Dendam

Istri Terbuang Membalas Dendam

340 Dilihat · Sedang Berlangsung · Freya Brooks
Setelah sepuluh tahun menikah, Hollis Meyer percaya bahwa dia telah menemukan suami yang luar biasa. Sedikit yang dia tahu, suaminya akan membawanya ke jalan kehancuran! Dengan menyamar sebagai pernikahan, dia memanipulasi emosinya, merencanakan untuk mengambil kekayaannya, dan bahkan memusnahkan seluruh keluarga Meyer, semua demi sekejap cinta sejati.

Namun, takdir campur tangan dengan pembunuhan yang direncanakan dengan cermat, mengirimnya kembali sepuluh tahun ke masa lalu! Dalam kehidupan baru ini, dia bersumpah untuk menghancurkannya sepenuhnya, menghapus garis keturunannya hingga menjadi abu, dan mengutuk kekasihnya dengan kemalangan tanpa akhir.

Dia berjanji untuk membalas dendam seratus kali lipat pada semua orang yang telah menyakitinya!
Dan begitu, tindakan pertamanya setelah terlahir kembali adalah menolak rayuan si brengsek itu dan dengan tegas menikahi musuh bebuyutannya dari kehidupan sebelumnya—seorang taipan terkemuka yang seharusnya tidak dia ganggu kali ini!

Dia mengira pernikahan mereka akan didorong oleh nafsu daripada kasih sayang, tetapi yang mengejutkannya, taipan itu menghujaninya dengan cinta dan pengabdian tanpa batas setelah mereka menikah.
Dewa Medis Turun Gunung

Dewa Medis Turun Gunung

440 Dilihat · Sedang Berlangsung · Hazel Brooks
Pewaris Tian Dao Yi Men dari Gunung Long Hu, Yang Hao, turun gunung atas perintah gurunya untuk mengobati orang sakit. Dengan kondisi bawaan lahir yang langka, ia memulai karirnya sebagai dokter magang di rumah sakit. Berbekal keterampilan medis dan kemampuan ramalannya, ia perlahan-lahan mengumpulkan pahala dan mencapai puncak hidupnya. Dia dengan tegas mengalahkan anak-anak kaya yang sombong dan menikmati kehidupan dengan wanita-wanita cantik yang luar biasa.
Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

Sebelum Dia Menjadi Miliarder Terobsesiku

716 Dilihat · Sedang Berlangsung · Vivian Brooks
“Pernah nggak sih… kamu beneran cinta sama aku?” tanya Summer Hayes suatu kali pada suaminya.

Kieran Cross tak pernah menjawab.

Selama dua tahun, Summer hidup dengan keyakinan kalau pernikahan mereka cuma bentuk balas dendam. Sentuhan Kieran dingin seperti es, genggamannya selalu terasa seperti belenggu, dan diamnya… tajam, seolah bisa melukai tanpa perlu kata-kata. Cowok kaya raya yang dulu ia anggap tak terlihat saat SMA akhirnya membuatnya membayar semuanya.

Sampai malam saat Kieran mati demi menyelamatkannya.

Ketika yacht mereka miring lalu tenggelam, ombak membekukan menampar wajah Summer tanpa ampun. Lampu-lampu di atas geladak padam satu per satu, berubah jadi titik-titik redup di balik kabut asin. Di tengah kekacauan—teriakan, bunyi logam beradu, aroma bahan bakar—Kieran mendorongnya ke perahu penyelamat.

Dengan paksa.

Dengan tenaga terakhir.

Ada darah di bibirnya, merah gelap yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya tetap menahan Summer, seolah tak mau melepas walau laut menarik tubuhnya ke bawah. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—untuk pertama kalinya selama Summer mengenal Kieran—mulut itu membentuk kalimat yang selalu ia tunggu, kalimat yang tak pernah sekalipun ia dengar.

“Aku cinta kamu.”

Summer baru benar-benar mengerti saat semuanya terlambat.

Saat perahu penyelamat menjauh, dan sosok Kieran tersapu gelombang, lenyap dalam dingin yang tak berujung.

Tiga tahun kemudian, Summer hidup seperti cangkang kosong. Duka menggumpal di dadanya, tak pernah benar-benar turun, sementara ingatan malam itu terus menghantamnya di waktu-waktu yang paling tak siap. Suara air, bau garam, rasa sesak—semuanya datang mendadak, menelan napasnya. PTSD membuatnya sulit tidur, sulit makan, sulit percaya bahwa ia masih berhak hidup.

Lalu suatu hari, saat jalanan basah dan lampu-lampu kendaraan berpendar di kaca, dunia berputar terlalu cepat.

Mobilnya menabrak.

Benturan keras. Gelap. Sunyi.

Dan saat Summer membuka mata—

Ia ada di kamar yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Dinding dengan poster lama, meja belajar penuh buku, aroma sabun laundry yang dulu selalu dipakai ibunya. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak liar.

Ia menoleh.

Di cermin, wajahnya… muda. Terlalu muda. Pipi masih penuh, mata masih menyimpan naivete yang seharusnya sudah lama mati. Tubuhnya kecil, tangan ini tangan remaja.

Enam belas.

Summer menahan napas saat mendengar suara dari luar kamar.

Suara yang selama bertahun-tahun ia rindukan sampai rasanya bisa gila.

Ibunya.

Masih hidup.

Kaki Summer lemas. Ia hampir jatuh hanya karena satu kenyataan itu. Dunia yang dulu merebut terlalu banyak darinya—kali ini mengembalikan sesuatu yang mustahil.

Namun ada satu hal lagi yang membuat tengkuknya merinding.

Kieran.

Kieran Cross yang ia kenal—suaminya, miliarder yang tak tersentuh, pria dengan jas mahal dan tatapan yang tak pernah benar-benar hangat—belum menjadi siapa-siapa.

Di usia ini, Kieran bukan penguasa yang membuat orang menunduk. Ia hanyalah anak beasiswa yang semua orang anggap tidak penting. Yang duduk di ujung kelas. Yang menunduk saat berjalan, seolah berharap tak ada yang melihatnya.

Pendiam.

Kelelahan.

Dan terlalu kurus, seolah sengaja menahan lapar demi seseorang.

Summer segera mengingat detail-detail yang dulu tak pernah ia pedulikan—karena dulu ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Kieran punya adik perempuan kecil yang tuli. Dan Kieran bekerja apa saja, mengambil shift tambahan, menahan kantuk, menahan lapar, agar adiknya tetap bisa makan… tetap bisa sekolah… tetap bisa bertahan.

Sementara semua orang? Menertawakan sepatu lusuhnya. Mengabaikan keberadaannya. Menganggapnya cuma “anak miskin” yang kebetulan numpang belajar di sekolah mereka.

Summer menelan ludah saat bayangan masa depan menghantamnya: Kieran yang kelak menjadi pria yang dingin, keras, dan penuh rahasia. Kieran yang memeluknya tanpa pernah benar-benar memberi tempat aman. Kieran yang mati untuknya—dan baru mengucapkan “aku cinta kamu” di detik terakhir hidupnya.

Kalau ini kesempatan kedua…

Kalau takdir benar-benar memberinya kesempatan—

Maka kali ini, ia tak akan membiarkan Kieran menjalani hidup sendirian.

Hari pertama ia kembali ke sekolah, semuanya terasa seperti déjà vu yang kejam. Lorong ramai, tawa, geng-geng kecil yang dulu ia kenal. Tapi pandangan Summer tak mencari siapa pun selain satu nama.

Dan ia menemukannya.

Kieran duduk di bus sekolah, berdiri di dekat pintu, memeluk tasnya dekat dada. Tatapannya menelusuri bangku-bangku yang sudah terisi—tempat yang tak pernah disisakan untuknya. Anak-anak lain berpura-pura tak melihat, ada yang sengaja memalingkan wajah, ada yang menyeringai kecil.

Tak ada satu pun yang menawarkan kursi.

Summer merasakan dada panas, bukan karena marah saja, tapi karena rasa bersalah yang menumpuk seperti utang.

Dulu, ia juga salah satu dari mereka.

Dulu, ia juga memilih diam.

Kali ini tidak.

Summer melangkah masuk, menembus kerumunan, dan duduk di bangku kosong sebelah jendela. Ia menoleh pada Kieran—pada anak laki-laki yang suatu hari akan menjadi suaminya, pada pria yang mati demi dirinya—lalu menepuk kursi di sebelahnya.

“Duduk sini,” kata Summer, suaranya tegas tapi lembut. “Masih kosong.”

Kieran seperti tak percaya. Matanya menatap Summer sejenak, bingung, ragu, seolah khawatir ini cuma lelucon. Ia menelan ludah, lalu duduk perlahan, tubuhnya kaku seperti siap kabur kapan saja.

Summer memandang lurus ke depan, tapi hatinya bergetar.

Karena ia tahu apa yang dipertaruhkan.

Di hidup ini, ia akan menyelamatkan Kieran—bukan hanya dari kelaparan, kelelahan, dan kesepian, tapi dari masa depan yang membentuknya jadi pria yang begitu hancur sampai cinta pun ia simpan sebagai senjata.

Namun semakin dekat Summer dengan Kieran, semakin besar kemungkinan ia mengorek kebenaran yang dulu tersembunyi rapi: alasan Kieran menjadi seperti itu, alasan kebenciannya terasa seperti cinta yang salah arah, dan alasan mengapa… setiap kali Kieran mencintainya, ujungnya selalu tragedi.

Dan Summer tak tahu mana yang lebih menakutkan—

Menyelamatkan Kieran…

atau mengetahui bahwa takdir selalu meminta bayaran saat mereka saling jatuh cinta.
Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

896 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lysandra Veyne
Pada abad ke-24, seorang pemuda bernama Cui Xiaoyu mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya terlempar ke tahun 80-an, menjadi seorang gadis biasa dari keluarga petani miskin di desa.

Katanya sih bakal menikmati kehidupan pedesaan yang santai, tapi kenapa baru saja sampai malah hampir dijual oleh pedagang manusia? Dia harus mengurus makanan keluarganya, dan juga menghadapi dua paman yang memandangnya seperti musuh!

Orang lain yang terlempar ke masa lalu biasanya punya "cheat" yang membuat hidup mereka lancar dan sukses. Tapi dia hanya punya sepasang mata yang bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Di zaman yang keras ini, mata seperti itu berguna buat apa?

Jadi, dia hanya bisa bekerja keras menanam jagung, mencari sumber air, dan melihat apakah ada tambang tersembunyi di sekitar sini! Dia tidak percaya bahwa dengan otaknya ini, dia bisa mati kelaparan di zaman kekeringan ini!

Dengan menendang paman yang jahat dan memukul preman tambang di desa, dia akan membawa seluruh keluarga Cui menuju jalan kekayaan!
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
1