Melintasi Batas: Terjebak dengan Sahabat Sendiri
911 Dilihat · Sedang Berlangsung · Nia Kas
POV Laila
Nggak pernah sedikit pun terpikir hidup gue bakal jungkir balik begini.
Dimas dan Alex—dua sahabat gue, yang dari TK selalu jagain gue, yang selalu ada di sisi gue—ternyata sama sekali bukan orang yang gue kenal selama ini. Sejak gue delapan belas, gue udah tahu. Dan gue simpan rapat-rapat. Gue rapikan semuanya sampai kelihatan seolah nggak ada apa-apa… sampai akhirnya ketahuan juga.
Jatuh cinta sama sahabat sendiri itu bukan sesuatu yang seharusnya lo lakuin. Apalagi kalau sahabat lo itu saudara kembar.
Persahabatan kami dulu baik-baik aja, sampai suatu hari gue ninggalin mereka demi kewarasan gue sendiri. Menghilang ternyata ampuh. Gue pikir jarak bakal bikin semuanya reda. Gue pikir kalau gue lenyap, perasaan gue bakal mati pelan-pelan.
Tapi satu acara kumpul-kumpul dadakan sama teman-teman kampus kami bikin semuanya berantakan lagi. Satu malam yang harusnya cuma obrolan receh dan nostalgia malah bikin gue kebuka—gue keceplosan ngasih lihat beberapa rahasia gue.
Dan beberapa rahasia mereka.
Saat teman-teman mulai nuding-nuding, mulai nanya dengan nada yang bikin dada sesak, gue nyerah. Gue capek jadi orang yang harus pura-pura baik-baik aja. Gue capek jadi pihak yang selalu diminta jelasin, sementara mereka cuma duduk manis seolah nggak pernah ngelakuin apa-apa.
Dan yang paling bikin gue ngeri: gue baru sadar kalau acara kumpul itu dari awal cuma umpan.
Cuma akal-akalan biar mereka bisa masuk lagi ke hidup gue.
Mereka mainnya bukan main cepat. Mereka mainnya panjang. Pelan, rapi, sabar—kayak orang yang udah nentuin dari dulu kalau gue harus jadi milik mereka.
Milik mereka. Dan mereka doang.
POV Dimas
Detik gue buka pintu dan ngelihat dia berdiri di situ—cantik banget—gue langsung tahu, malam ini cuma ada dua kemungkinan: semuanya berjalan sesuai yang gue dan Alex mau, atau dia kabur.
Gue dan Alex jatuh cinta sama dia waktu gue delapan belas. Dia tujuh belas. Masih batas yang nggak boleh kami lewatin. Buat dia, kami cuma kayak abang—orang yang selalu jagain, yang selalu ada, yang selalu jadi tempat aman.
Jadi kami nunggu.
Kami nahan diri. Kami ngunci semua itu rapat-rapat, sambil pura-pura jadi sahabat terbaik. Sambil nonton dia tumbuh, nonton dia makin dewasa, makin cantik, makin jadi alasan gue sulit napas setiap kali dia ketawa.
Waktu dia menghilang, kami biarin.
Bukan karena kami nggak peduli. Tapi karena kami tahu, suatu saat dia pasti muncul lagi. Dan kalau dia nggak muncul, kami yang bakal nyamperin.
Dia pikir kami nggak tahu dia di mana.
Dia salah besar.
Gue tahu dia ke mana, sama siapa dia ngobrol, kapan dia pulang, apa yang dia makan kalau lagi capek. Gue tahu kebiasaan kecilnya yang dia sendiri nggak sadar. Gue tahu cara bikin dia luluh—cara bikin dia berhenti lari dan mulai nurut sama apa yang kami mau.
Gue cuma perlu momen yang tepat.
Dan momen itu akhirnya ada di depan mata gue, berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang masih sok kuat—padahal gue bisa lihat ketakutannya dari cara jemarinya kaku.
POV Alex
Laila kecil yang dulu suka nempel di gue dan Dimas sekarang udah jadi… cantik banget sampai bikin gue pengin merem. Bukan karena nggak sanggup lihat, tapi karena kalau gue terus ngelihatin, gue takut gue bakal kehilangan kendali.
Gue dan Dimas udah mutusin: dia bakal jadi punya kami.
Dia jalan-jalan di pulau itu—merasa aman, merasa jauh, merasa nggak ada yang bisa nyentuh hidupnya lagi—tanpa sadar apa yang lagi mendekat. Tanpa sadar kalau semua langkahnya dari dulu selalu ada yang ngikutin.
Satu cara atau cara lain, sahabat kami bakal berakhir di bawah kami, di ranjang kami.
Dan yang paling manis: pada akhirnya, dia bakal minta itu juga.
Nggak pernah sedikit pun terpikir hidup gue bakal jungkir balik begini.
Dimas dan Alex—dua sahabat gue, yang dari TK selalu jagain gue, yang selalu ada di sisi gue—ternyata sama sekali bukan orang yang gue kenal selama ini. Sejak gue delapan belas, gue udah tahu. Dan gue simpan rapat-rapat. Gue rapikan semuanya sampai kelihatan seolah nggak ada apa-apa… sampai akhirnya ketahuan juga.
Jatuh cinta sama sahabat sendiri itu bukan sesuatu yang seharusnya lo lakuin. Apalagi kalau sahabat lo itu saudara kembar.
Persahabatan kami dulu baik-baik aja, sampai suatu hari gue ninggalin mereka demi kewarasan gue sendiri. Menghilang ternyata ampuh. Gue pikir jarak bakal bikin semuanya reda. Gue pikir kalau gue lenyap, perasaan gue bakal mati pelan-pelan.
Tapi satu acara kumpul-kumpul dadakan sama teman-teman kampus kami bikin semuanya berantakan lagi. Satu malam yang harusnya cuma obrolan receh dan nostalgia malah bikin gue kebuka—gue keceplosan ngasih lihat beberapa rahasia gue.
Dan beberapa rahasia mereka.
Saat teman-teman mulai nuding-nuding, mulai nanya dengan nada yang bikin dada sesak, gue nyerah. Gue capek jadi orang yang harus pura-pura baik-baik aja. Gue capek jadi pihak yang selalu diminta jelasin, sementara mereka cuma duduk manis seolah nggak pernah ngelakuin apa-apa.
Dan yang paling bikin gue ngeri: gue baru sadar kalau acara kumpul itu dari awal cuma umpan.
Cuma akal-akalan biar mereka bisa masuk lagi ke hidup gue.
Mereka mainnya bukan main cepat. Mereka mainnya panjang. Pelan, rapi, sabar—kayak orang yang udah nentuin dari dulu kalau gue harus jadi milik mereka.
Milik mereka. Dan mereka doang.
POV Dimas
Detik gue buka pintu dan ngelihat dia berdiri di situ—cantik banget—gue langsung tahu, malam ini cuma ada dua kemungkinan: semuanya berjalan sesuai yang gue dan Alex mau, atau dia kabur.
Gue dan Alex jatuh cinta sama dia waktu gue delapan belas. Dia tujuh belas. Masih batas yang nggak boleh kami lewatin. Buat dia, kami cuma kayak abang—orang yang selalu jagain, yang selalu ada, yang selalu jadi tempat aman.
Jadi kami nunggu.
Kami nahan diri. Kami ngunci semua itu rapat-rapat, sambil pura-pura jadi sahabat terbaik. Sambil nonton dia tumbuh, nonton dia makin dewasa, makin cantik, makin jadi alasan gue sulit napas setiap kali dia ketawa.
Waktu dia menghilang, kami biarin.
Bukan karena kami nggak peduli. Tapi karena kami tahu, suatu saat dia pasti muncul lagi. Dan kalau dia nggak muncul, kami yang bakal nyamperin.
Dia pikir kami nggak tahu dia di mana.
Dia salah besar.
Gue tahu dia ke mana, sama siapa dia ngobrol, kapan dia pulang, apa yang dia makan kalau lagi capek. Gue tahu kebiasaan kecilnya yang dia sendiri nggak sadar. Gue tahu cara bikin dia luluh—cara bikin dia berhenti lari dan mulai nurut sama apa yang kami mau.
Gue cuma perlu momen yang tepat.
Dan momen itu akhirnya ada di depan mata gue, berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang masih sok kuat—padahal gue bisa lihat ketakutannya dari cara jemarinya kaku.
POV Alex
Laila kecil yang dulu suka nempel di gue dan Dimas sekarang udah jadi… cantik banget sampai bikin gue pengin merem. Bukan karena nggak sanggup lihat, tapi karena kalau gue terus ngelihatin, gue takut gue bakal kehilangan kendali.
Gue dan Dimas udah mutusin: dia bakal jadi punya kami.
Dia jalan-jalan di pulau itu—merasa aman, merasa jauh, merasa nggak ada yang bisa nyentuh hidupnya lagi—tanpa sadar apa yang lagi mendekat. Tanpa sadar kalau semua langkahnya dari dulu selalu ada yang ngikutin.
Satu cara atau cara lain, sahabat kami bakal berakhir di bawah kami, di ranjang kami.
Dan yang paling manis: pada akhirnya, dia bakal minta itu juga.
