3 Book(s) Related to batman harem fanfic

Nothingville: Terjebak dalam Harem Terbalik

Nothingville: Terjebak dalam Harem Terbalik

505 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leviathan
Ini kisah lima sahabat karib yang nekat datang bareng ke sebuah klub seks. Peringatan: 21+

Laras duduk di pangkuan Kris setelah memastikan tubuh mereka kini benar-benar menyatu. Laras menggoyangkan pinggulnya pelan, lalu berbisik manja, minta Kris meremas payudaranya.

“Ah…”

Desahan lembut Laras membuat nalar Kris buyar makin jauh. Ia merangkul Laras erat, mengecup bibirnya, lalu mengambil alih permainan.

Sentakan mendadak itu membuat Laras terkejut sesaat. Namun ia membalas ciuman Kris dan menggoda lidahnya dengan nakal. Kedua tangannya memeluk pria itu, seolah menegaskan bahwa ia ada di sana—bersama Kris. Perasaan itu ganjil, karena dulu ia yakin ia dan Kris tak akan pernah sampai sejauh ini.

Laras memaksa Kris menanggalkan semua pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Ia ingin Kris ikut bergabung. Ia tahu Bram, Piero, dan Leo sudah tak sabar lagi. Mereka pasti akan mendominasinya seperti sebelumnya, dan kalau Kris tak segera memutuskan ikut sekarang, ia tak akan kebagian kesempatan.

“Mau gabung sama kita?” bisik Laras di telinga Kris.

“Iya. Gue mau!”


Setelah sekali lagi lolos dari percobaan bunuh diri, Laras bermimpi tentang masa kecilnya—tentang bagaimana hidupnya berubah begitu jauh.

Ia menulis surat janji untuk dirinya sendiri, lalu kembali ke kota tempat ia lahir dan dibesarkan, berharap bisa menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia genggam sejak meninggalkan kampung halamannya.

Di acara reuni SMA, Laras kembali bertemu empat sahabat kecilnya: Bram, Kris, Piero, dan Leo. Mereka berlima adalah tetangga sekaligus teman sejak TK sampai SMA. Namun saat liburan panjang di masa SMA, Laras dan keluarganya pindah tanpa pamit, tanpa sepatah kata perpisahan.

Reuni itu mendekatkan mereka lagi, sambil mengenang masa lalu yang konyol dan tak terlupakan. Sampai kemudian, kisah romansa di antara lima sahabat yang dulu tak pernah bisa dipisahkan pun perlahan dimulai.
Istri Cantik yang Harum [Yuri ABO]

Istri Cantik yang Harum [Yuri ABO]

1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Evelyn Blackthorn
"Pengemis Tampan X Penguasa Sekte yang Cantik
Wen Ren Li dijebak oleh empat penguasa sekte dengan racun yang sangat berbahaya. Dia lebih memilih mati daripada menyerah kepada mereka. Namun, saat melarikan diri, racun itu mulai bereaksi. Akhirnya, dia terpaksa menyerahkan diri kepada seorang pengemis tampan di jalan. Setelah itu, semuanya menjadi semakin rumit... Setelah malam penuh gairah itu, pengemis tampan Feng Qian Xun memulai perjalanan mencari istri."
Melintasi Batas: Terjebak dengan Sahabat Sendiri

Melintasi Batas: Terjebak dengan Sahabat Sendiri

911 Dilihat · Sedang Berlangsung · Nia Kas
POV Laila

Nggak pernah sedikit pun terpikir hidup gue bakal jungkir balik begini.

Dimas dan Alex—dua sahabat gue, yang dari TK selalu jagain gue, yang selalu ada di sisi gue—ternyata sama sekali bukan orang yang gue kenal selama ini. Sejak gue delapan belas, gue udah tahu. Dan gue simpan rapat-rapat. Gue rapikan semuanya sampai kelihatan seolah nggak ada apa-apa… sampai akhirnya ketahuan juga.

Jatuh cinta sama sahabat sendiri itu bukan sesuatu yang seharusnya lo lakuin. Apalagi kalau sahabat lo itu saudara kembar.

Persahabatan kami dulu baik-baik aja, sampai suatu hari gue ninggalin mereka demi kewarasan gue sendiri. Menghilang ternyata ampuh. Gue pikir jarak bakal bikin semuanya reda. Gue pikir kalau gue lenyap, perasaan gue bakal mati pelan-pelan.

Tapi satu acara kumpul-kumpul dadakan sama teman-teman kampus kami bikin semuanya berantakan lagi. Satu malam yang harusnya cuma obrolan receh dan nostalgia malah bikin gue kebuka—gue keceplosan ngasih lihat beberapa rahasia gue.

Dan beberapa rahasia mereka.

Saat teman-teman mulai nuding-nuding, mulai nanya dengan nada yang bikin dada sesak, gue nyerah. Gue capek jadi orang yang harus pura-pura baik-baik aja. Gue capek jadi pihak yang selalu diminta jelasin, sementara mereka cuma duduk manis seolah nggak pernah ngelakuin apa-apa.

Dan yang paling bikin gue ngeri: gue baru sadar kalau acara kumpul itu dari awal cuma umpan.

Cuma akal-akalan biar mereka bisa masuk lagi ke hidup gue.

Mereka mainnya bukan main cepat. Mereka mainnya panjang. Pelan, rapi, sabar—kayak orang yang udah nentuin dari dulu kalau gue harus jadi milik mereka.

Milik mereka. Dan mereka doang.

POV Dimas

Detik gue buka pintu dan ngelihat dia berdiri di situ—cantik banget—gue langsung tahu, malam ini cuma ada dua kemungkinan: semuanya berjalan sesuai yang gue dan Alex mau, atau dia kabur.

Gue dan Alex jatuh cinta sama dia waktu gue delapan belas. Dia tujuh belas. Masih batas yang nggak boleh kami lewatin. Buat dia, kami cuma kayak abang—orang yang selalu jagain, yang selalu ada, yang selalu jadi tempat aman.

Jadi kami nunggu.

Kami nahan diri. Kami ngunci semua itu rapat-rapat, sambil pura-pura jadi sahabat terbaik. Sambil nonton dia tumbuh, nonton dia makin dewasa, makin cantik, makin jadi alasan gue sulit napas setiap kali dia ketawa.

Waktu dia menghilang, kami biarin.

Bukan karena kami nggak peduli. Tapi karena kami tahu, suatu saat dia pasti muncul lagi. Dan kalau dia nggak muncul, kami yang bakal nyamperin.

Dia pikir kami nggak tahu dia di mana.

Dia salah besar.

Gue tahu dia ke mana, sama siapa dia ngobrol, kapan dia pulang, apa yang dia makan kalau lagi capek. Gue tahu kebiasaan kecilnya yang dia sendiri nggak sadar. Gue tahu cara bikin dia luluh—cara bikin dia berhenti lari dan mulai nurut sama apa yang kami mau.

Gue cuma perlu momen yang tepat.

Dan momen itu akhirnya ada di depan mata gue, berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang masih sok kuat—padahal gue bisa lihat ketakutannya dari cara jemarinya kaku.

POV Alex

Laila kecil yang dulu suka nempel di gue dan Dimas sekarang udah jadi… cantik banget sampai bikin gue pengin merem. Bukan karena nggak sanggup lihat, tapi karena kalau gue terus ngelihatin, gue takut gue bakal kehilangan kendali.

Gue dan Dimas udah mutusin: dia bakal jadi punya kami.

Dia jalan-jalan di pulau itu—merasa aman, merasa jauh, merasa nggak ada yang bisa nyentuh hidupnya lagi—tanpa sadar apa yang lagi mendekat. Tanpa sadar kalau semua langkahnya dari dulu selalu ada yang ngikutin.

Satu cara atau cara lain, sahabat kami bakal berakhir di bawah kami, di ranjang kami.

Dan yang paling manis: pada akhirnya, dia bakal minta itu juga.
1