3 Book(s) Related to antonio fernandez king tone

MILIKNYA SELAMA EMPAT BELAS MALAM

MILIKNYA SELAMA EMPAT BELAS MALAM

826 Dilihat · Sedang Berlangsung · Esther King
“Iya, iya.”

Erangan itu merobek keluar dari bibirku tanpa bisa kutahan. Di gelap aku nggak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi aku tahu senyum puas pasti mengembang di sana, dan tatapan matanya yang sayu mengawasi setiap reaksiku.

Suaranya rendah, serak, “Lo suka, ya? Suka cara gue nyentuh lo? Suka cara gue ngusap itu pakai jari gue seolah-olah lo milik gue?”

Aku mengangguk terus-menerus, erangan kenikmatan naik turun di tenggorokan, nggak yakin sampai kapan aku bisa menunggu sebelum dia benar-benar masuk ke dalamku. Jarinya bergerak lebih cepat, sementara tangan satunya mengusap bagian paling peka itu, “Nah gitu. Ayo. Gue suka suara erangan kecil lo tiap gue godain.”

Aku susah menyusun kata-kata, “T-t-tolong jangan godain terus. Masukin—” pekik yang keterlaluan, “Aku pengin ngerasain banget. Aku pengin—”

Napas tersedak lepas dari bibirku saat dia menghujam masuk. Otakku seakan mengerut seperti daun layu. Aku membuka kedua kakiku lebih lebar dan dia menekan tubuhnya sepenuhnya ke arahku. Terlalu berat untuk kutahan, dan terlalu ringan untuk kulepaskan. Dia mulai menghentak. Semakin dalam dan semakin keras di tiap dorongan. Di dalamku. Tanpa jeda. Aku melingkarkan kedua kakiku ke punggungnya supaya dia nggak bisa menjauh.


Pulang ke kota tempat ia dilahirkan, Rebekah Lestari terlibat adu mulut habis-habisan dengan bajingan paling kejam di kota itu; tanpa ia sadari, aksi sok pintar yang ia lakukan justru menyeretnya ke dalam bahaya.

14 hari. Satu rumah besar. Satu ranjang. Satu pria yang sama sekali nggak polos. Apa sih yang mungkin bisa salah?
Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

Pengantin yang Enggan dari Bos Mafia yang Kejam

1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Kierra King
“Kau kira bisa pergi begitu saja, cantik?”

Suara Melo rendah dan berbahaya, jarinya menyusup mengangkat dagunya, memaksa Isabella menatapnya. “Kau sudah tanda tangan menanggung utang bapakmu pakai namamu sendiri. Artinya kau jadi milikku.”

Isabella menahan napas, menatap balik mata kelabu itu yang dingin seperti besi. Ia tak mau memalingkan wajah. “Kau boleh punya tubuhku, Melo Rossi,” bisiknya, “tapi hati gue nggak akan pernah jadi milik lo.”

Seringainya tajam, seolah bisa mengiris. “Kita lihat nanti.”

Ketika utang ayahnya menyeretnya ke dalam jerat yang tak bisa ditawar, Isabella Bianchi dipaksa menjadi pengantin dari Carmelo Rossi—seorang bos mafia yang namanya dibisikkan orang dengan takut, dipuja karena kuasanya, dan dibenci karena kejamnya.

Terkurung di dunia Melo yang penuh bahaya sekaligus godaan, Isabella mati-matian menjaga agar hatinya tetap utuh, tak tersentuh. Mampukah ia kabur dari pria yang menggenggam nasibnya—atau justru ia akan jatuh pada sosok monster yang selama ini ia pelajari untuk ditakuti?
Si Kembar Mafia

Si Kembar Mafia

879 Dilihat · Sedang Berlangsung · Tonje Unosen
Si kembar Elina dan Ian lenyap dari keluarga mereka saat baru berusia empat tahun. Sejak itu, hidup mereka cuma berisi kekerasan dan kesengsaraan yang panjang, seolah dunia menutup semua pintu bagi dua anak kecil yang bahkan belum sempat paham apa artinya rumah.

Lima tahun kemudian, ketika usia mereka sembilan, mereka terlihat hidup menggelandang di jalanan Meksiko. Bukannya diselamatkan, mereka justru “diambil” oleh sebuah geng. Di tempat yang keras itu, mereka belajar satu hal paling cepat: kalau mau bertahan, jangan pernah terlihat lemah.

Lalu, entah bagaimana, mereka menghilang lagi. Kali ini bukan sekadar hilang—mereka ditahan sebagai tawanan selama setahun penuh. Setahun yang menghapus sisa-sisa masa kanak-kanak mereka, setahun yang mengajari mereka rasa sakit dalam bentuk yang tak semestinya dikenali anak-anak. Berbagai macam penyiksaan dan perlakuan keji jadi makanan harian sampai akhirnya, pada suatu hari, mereka berhasil diselamatkan.

Namun keselamatan tidak langsung terasa seperti keselamatan.

Saat Elina akhirnya keluar dari tempat itu, sesuatu di dalam dirinya patah. Semangatnya hancur berantakan. Ia berubah jadi anak perempuan yang selalu ketakutan, yang napasnya mudah tersendat hanya karena suara pintu ditutup terlalu keras. Ketika ia kembali ke keluarga—kembali ke rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman—Elina lebih banyak menunduk, bicara pelan, dan mengecil seolah ingin menghilang.

Ian berbeda. Ia tetap diam seperti biasa, tapi ada ketegangan yang menetap di bahunya, kewaspadaan yang tak pernah padam di matanya. Seakan-akan ia sudah memutuskan: apa pun yang terjadi nanti, ia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Elina lagi.

Waktu berjalan, perlahan, sesuatu di dalam Elina mulai bergerak lagi. Rasa takut itu tidak hilang begitu saja, tapi ia tidak selamanya akan tinggal di sana. Sedikit demi sedikit, di balik sikapnya yang pemalu dan penurut, sisi Elina yang keras mulai muncul. Sisi yang dulu membuatnya bertahan hidup. Sisi yang tidak mau diinjak.

Sampai akhirnya orang-orang akan tahu, Elina bukan anak yang bisa dipermainkan.

Mereka berdua bukan korban tanpa bekal. Di masa mereka bersama geng yang menemukan mereka di jalanan, pemimpin geng itu tidak hanya mengajarkan cara memukul atau cara kabur dari situasi berbahaya. Ia melatih mereka—membentuk mereka—jadi seseorang yang mematikan saat terdesak. Elina dan Ian tumbuh dengan kemampuan bertarung yang tajam, refleks yang terlatih, dan naluri membaca ancaman yang nyaris instingtif.

Anehya, di tempat yang seharusnya hanya mengenal kekerasan, mereka juga dididik. Pemimpin itu memastikan mereka pintar. Buku, latihan, disiplin—semuanya diberikan dengan tujuan yang jelas. Dan hasilnya terlihat: mereka bukan hanya kuat, tapi juga cerdas luar biasa.

Di antara mereka ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Elina dan Ian bisa berkomunikasi hanya lewat tatapan. Satu kedipan, satu perubahan kecil di mata, dan yang lain sudah mengerti. Ikatan mereka seperti benang halus yang tak terlihat tapi menahan mereka tetap bersama. Mereka bisa merasakan sakit satu sama lain, seolah tubuh mereka masih berbagi satu jantung.

Mereka kembar identik—dan sering kali bergerak seperti satu kesatuan.

Maka ketika hidup “baru” menunggu mereka—keluarga yang ingin merangkul kembali, rumah yang mencoba menambal yang sudah robek, dan sekolah di Los Angeles tempat mereka harus duduk di kelas bersama saudara-saudara mereka—tantangan itu tidak kecil. Ada perhatian yang menguntit, ada bisik-bisik, ada tatapan penasaran. Ada pertanyaan yang tak bisa mereka jawab tanpa membuka luka.

Dan yang paling berat: malam.

Malam membawa mimpi buruk, bayangan masa lalu, suara-suara yang kembali menghantam ingatan. Siang hari mereka mencoba tersenyum, mencoba menjadi anak biasa, mencoba memanggil orang dengan sebutan yang hangat dan akrab seolah semuanya wajar. Tapi di dalam diri mereka, ada bagian yang masih terjebak di tempat gelap itu, masih menghitung langkah, masih mencari jalan keluar.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak.

Mampukah mereka menemukan bahagia dan cinta—bukan sebagai dua anak yang patah, tapi sebagai diri mereka sendiri?

Mampukah mereka menerima apa yang pernah terjadi tanpa membiarkannya menentukan segalanya, melihat harga diri mereka lagi, dan percaya bahwa mereka pantas hidup yang baik?

Karena satu-satunya keinginan terbesar Elina dan Ian, sejak dulu, cuma itu: hidup damai, dan hidup bahagia.
1