3 Book(s) Related to MOTH AND FLAMES

Obat untuk Sang Miliarder

Obat untuk Sang Miliarder

240 Dilihat · Sedang Berlangsung · Leah Flores
“Lo tau nggak? Muka lo kalau lagi main catur tuh kayak orang mau ngebunuh,” gue ketawa kecil, sambil ngejepit rajanya. “Skakmat.”

Di detik itu juga, gue nangkep kilat kaget di matanya—lalu sesuatu yang gelap, pekat, yang gue sendiri nggak bisa nebak artinya.

Dia berdiri mendadak. Badannya yang tinggi bikin napas gue serasa ketahan, bayangannya jatuh menutup gue. “Nggak ada yang menang di permainan gue, Nona Valencia. Nggak ada.”


Oliver Kang, dua puluh delapan tahun, pengusaha muda tajir yang namanya disebut-sebut orang seolah uang punya bau sendiri. Di balik sikapnya yang dingin dan rapi kayak baja, dia nyimpen rahasia yang nggak bisa dia beli atau suap: kondisi langka yang bikin sentuhan manusia jadi siksaan. Kulit orang lain, bahkan cuma kena sekilas, bisa memantik nyeri yang merambat cepat, bikin tubuhnya menolak. Akhirnya dia hidup sendirian di tengah kemewahan, dikelilingi orang tapi nggak pernah benar-benar disentuh siapa pun.

Dunia yang dia susun dengan perhitungan milimeter itu retak pada satu malam—malam ketika dia memergoki Dallas Valencia sedang nyelonong di rumah besarnya, berusaha ngambil sesuatu yang bukan miliknya.

Kesepakatannya sederhana, tanpa ruang tawar: kerja jadi ART di rumahnya atau berurusan sama polisi.

Tapi semuanya berubah waktu Oliver nemuin sesuatu yang mustahil. Sentuhan Dallas—yang seharusnya bikin dia meringis, menarik diri, kesakitan—nggak memicu reaksi apa pun. Nggak ada nyeri. Nggak ada panas. Nggak ada tubuhnya yang menjerit minta lepas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dinding yang dia bangun rapi mulai rapuh.

Dallas Valencia nggak pernah berencana jadi ART pribadi miliarder paling dingin di kota. Rekeningnya kosong, dompetnya tipis, dan harga dirinya keras kepala. Dia nerima ultimatum itu dengan gigi terkatup, berniat bertahan dari arogansinya sampai dia bisa kabur dan balik ngatur hidupnya sendiri. Yang nggak pernah dia bayangin: dia justru jadi satu-satunya orang yang bisa nyentuh Oliver tanpa bikin pria itu tersiksa—jadi semacam penawar untuk penyakit yang udah ngurung Oliver seumur hidup.

“Apa yang lo lakuin ke gue?” suatu malam dia menjebak gue di antara tubuhnya dan dinding, suaranya rendah, serak, bikin bulu kuduk gue berdiri. “Kenapa cuma lo?”
Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

896 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lysandra Veyne
Pada abad ke-24, seorang pemuda bernama Cui Xiaoyu mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya terlempar ke tahun 80-an, menjadi seorang gadis biasa dari keluarga petani miskin di desa.

Katanya sih bakal menikmati kehidupan pedesaan yang santai, tapi kenapa baru saja sampai malah hampir dijual oleh pedagang manusia? Dia harus mengurus makanan keluarganya, dan juga menghadapi dua paman yang memandangnya seperti musuh!

Orang lain yang terlempar ke masa lalu biasanya punya "cheat" yang membuat hidup mereka lancar dan sukses. Tapi dia hanya punya sepasang mata yang bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Di zaman yang keras ini, mata seperti itu berguna buat apa?

Jadi, dia hanya bisa bekerja keras menanam jagung, mencari sumber air, dan melihat apakah ada tambang tersembunyi di sekitar sini! Dia tidak percaya bahwa dengan otaknya ini, dia bisa mati kelaparan di zaman kekeringan ini!

Dengan menendang paman yang jahat dan memukul preman tambang di desa, dia akan membawa seluruh keluarga Cui menuju jalan kekayaan!
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
1