Kembalinya Sang Istri yang Telah Tiada dengan Anak Kembar
987 Dilihat · Sedang Berlangsung · Eudora
Lima tahun lalu, aku dicampakkan begitu saja saat rahimku tengah mengandung bayi kembar. Kini, aku melangkahkan kaki kembali ke kota ini, menggandeng dua jagoan kecil yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan ayah mereka.
Dulu, setelah berhasil melewati masa-masa kelam di balik jeruji besi akibat fitnah keji, aku memilih pergi ke luar negeri. Aku membesarkan anak-anakku sendirian dengan darah dan air mata. Niatku pulang ke Tanah Air sebenarnya sederhana: aku hanya ingin mencari ketenangan hidup. Namun, takdir seolah mempermainkanku. Mantan suamiku, Mas Bima, berhasil melacak keberadaan kami dan bersikeras menahan kami agar tidak pergi lagi.
Tentu saja, si kembar menatapnya dengan sorot permusuhan. Mereka menolak mentah-mentah kehadiran pria yang dulu tega membuang darah dagingnya sendiri.
Kini, ketika satu per satu tabir kebohongan di balik tragedi kebakaran itu mulai terkuak, dan segala kelicikan Olivia akhirnya terbongkar, hatiku goyah. Aku terperangkap di persimpangan yang menyiksa: haruskah aku terus merawat dendam dan kebencian ini, atau... haruskah aku memberi cinta kesempatan sekali lagi?
Dulu, setelah berhasil melewati masa-masa kelam di balik jeruji besi akibat fitnah keji, aku memilih pergi ke luar negeri. Aku membesarkan anak-anakku sendirian dengan darah dan air mata. Niatku pulang ke Tanah Air sebenarnya sederhana: aku hanya ingin mencari ketenangan hidup. Namun, takdir seolah mempermainkanku. Mantan suamiku, Mas Bima, berhasil melacak keberadaan kami dan bersikeras menahan kami agar tidak pergi lagi.
Tentu saja, si kembar menatapnya dengan sorot permusuhan. Mereka menolak mentah-mentah kehadiran pria yang dulu tega membuang darah dagingnya sendiri.
Kini, ketika satu per satu tabir kebohongan di balik tragedi kebakaran itu mulai terkuak, dan segala kelicikan Olivia akhirnya terbongkar, hatiku goyah. Aku terperangkap di persimpangan yang menyiksa: haruskah aku terus merawat dendam dan kebencian ini, atau... haruskah aku memberi cinta kesempatan sekali lagi?
