Dia menciumku, mengalihkan perhatianku dari nyeri yang mengiris di sela pahaku. Lalu dia mulai bergerak pelan, sabar, seolah memberi waktu tubuhku menyesuaikan diri. Rasa sakit itu pelan-pelan mereda, tergantikan sesuatu yang hangat, yang makin lama makin enak. Tanpa sadar pinggulku ikut menyambut ritmenya saat dia bergerak di atas tubuhku.
Dia menunduk tanpa menghentikan gerakannya, bibirnya menangkap salah satu putingku. Hela napasku tercekat. Aku bisa merasakan diriku makin basah di sekelilingnya, dan itu seperti memicu dia—gerakannya jadi lebih cepat, lebih dalam.
“Sial… kamu basah banget, Sayang.”
Dua belas tahun lalu, aku hamil—lalu aku menghilang dari hidupnya.
Waktu itu aku pikir, pergi adalah satu-satunya cara. Tapi semakin putriku tumbuh, semakin jelas wajah itu: garis rahang, sorot mata, bahkan kebiasaan kecil yang tiba-tiba membuat dadaku sesak. Dia makin mirip ayahnya, dan bersamaan dengan itu, rindu yang kupendam lama justru makin mengakar.
Malam ini, di sebuah gala, aku melihatnya lagi.
Sekarang dia bukan sekadar laki-laki yang dulu duduk di bangku kuliah bersamaku, tertawa di kantin, membagi rokok satu batang di pojok parkiran, dan menatapku seperti aku rumah. Dia berdiri di tengah ruangan dengan setelan yang jatuh sempurna di bahunya—karismatik, tenang, dan terlalu dikenal di mata orang-orang. Seorang CEO yang namanya sering muncul di berita bisnis.
Aku pernah mencintai Niko sepenuh hati selama bertahun-tahun saat kami kuliah. Cinta yang sederhana dan bodoh—yang kukira cukup untuk menahan apa pun. Sampai pada satu malam, satu-satunya malam kami tidak memakai pengaman. Dan dari malam itu, hidupku berubah.
Aku tahu masa depannya sudah ditata sejak kecil. Ada bisnis keluarga, ada jalur yang sudah disiapkan, ada harapan yang bertumpuk di pundaknya. Dia pantas mendapat semua itu. Dan entah kenapa, di kepalaku yang ketakutan, kehamilanku terasa seperti bom yang akan meledakkan semuanya—bukan cuma mimpiku, tapi juga mimpi dia.
Jadi aku lari.
Aku lari ke tempat yang kupikir tak akan dia cari. Aku mengganti nama, memutus kontak, menelan rasa bersalah setiap malam sampai rasanya seperti kebal. Dua belas tahun kemudian, aku bekerja sebagai perawat—bukan impianku sama sekali, tapi pekerjaan itu membuat dapur tetap ngebul. Itu yang paling penting.
Lalu seorang rekan kerja memberiku tiket untuk datang ke Pesta Natal, semacam acara dansa amal yang gemerlap dan terlalu mewah untuk orang sepertiku. Aku sempat ragu, tapi akhirnya datang juga—mungkin karena sudah lama aku tidak melakukan sesuatu hanya untuk diriku sendiri.
Dan di sanalah aku bertemu dia.
Cinta pertamaku. Laki-laki yang kutinggalkan. Laki-laki yang wajahnya hidup di wajah anakku.
Tanganku mendadak dingin saat kulihat lengannya—di sana tergandeng seorang perempuan yang terlalu sempurna: model, tinggi, kulitnya seperti porselen, senyumnya terlatih. Perempuan yang tampak pas berdiri di samping seorang pria seperti Niko.
Sejak aku pergi, aku selalu memastikan tetap tahu kabarnya. Aku mengikuti akun-akun gosip, membaca artikel, memantau media sosialnya dari balik nama lain. Dan benar saja, selalu ada model di lengannya. Selalu.
Yang menyakitkan, tidak satu pun dari mereka yang mirip denganku. Itu membuatku sadar akan sesuatu yang selama ini kupaksakan untuk tidak kupikirkan: dia sudah selesai denganku. Dia sudah melanjutkan hidupnya tanpa celah.
Tapi melihatnya langsung—bukan di layar ponsel, bukan dari potongan berita—membuat dadaku seperti diremas. Rasanya seperti ada tangan yang merogoh ke dalam, mencabut jantungku bulat-bulat, lalu membiarkannya berdetak di udara dingin ballroom itu.
Terlebih lagi, dengan perempuan itu di sisinya.