Ditakdirkan untuk Sang Alfa yang Membunuhku
523 Dilihat · Sedang Berlangsung · Sherry
“Violet Goldcrest.”
Suara Daemon menghantam seperti petir—bergetar lewat tanah yang becek, merambat naik menembus lututku, masuk ke tulang-tulang sampai rasanya dunia ikut retak.
“Kau sudah gagal sebagai Luna.”
Aku berlutut di kubangan lumpur. Dingin dan kotor, tapi itu bukan apa-apa dibanding rasa sakit yang mengoyak dada ketika aku melihat punggungnya menjauh… bersama Celeste yang sedang hamil.
“I, Daemon Blackwood,” ucapnya datar, setajam es, “reject you as my mate.”
Sepuluh tahun.
Aku mencintainya sepuluh tahun—sampai hari itu dia menghancurkanku di depan semua orang lewat upacara penolakan yang digelar terbuka, meninggalkanku demi perempuan lain, lalu mengobarkan perang terhadap pack kami.
Orang tuaku mati saat berusaha melindungiku.
Dan aku mati sendirian—hancur, kering, patah—oleh pengkhianatan lelaki yang dulu kupikir akan jadi rumahku.
Lalu aku membuka mata…
…tiga tahun lebih awal.
Kali ini, aku selesai memohon-mohon cinta Daemon.
“Aku ajukan kesepakatan, Daemon,” kataku saat dia menepis tawaranku untuk memutus ikatan kami seperti menepuk debu dari lengan baju. “Sebentar lagi, kau bukan cuma akan menerima rejection ini—kau akan memintanya.”
Tatapannya menyapu wajahku dengan jijik yang dingin, seolah aku ini noda yang mengganggu pemandangan.
“Aku. Tidak. Meminta.”
Aku menghela napas pelan. Karena aku—yang sudah pernah menjalani semua ini—tahu persis apa yang akan terjadi.
Daemon akan bertemu true mate-nya.
Dia akan jatuh cinta setengah mati pada perempuan itu.
Dan akhirnya… dia akan membebaskanku.
Aku cuma perlu menunggu.
Tapi kemudian…
semuanya jadi aneh.
Lelaki yang dulu bisa menghilang berbulan-bulan tanpa peduli aku hidup atau mati, sekarang justru mengawasi setiap gerakanku. Dia menanyai aku tentang para pria lain—dengan nada seperti interogasi, seperti aku ini miliknya. Seolah ikatan yang ingin dia buang itu mendadak jadi sesuatu yang dia genggam erat.
Dan ketika dia akhirnya bertemu Celeste…
dia tidak menolakku seperti seharusnya.
Dia menolak Celeste.
Bukan aku.
Suara Daemon menghantam seperti petir—bergetar lewat tanah yang becek, merambat naik menembus lututku, masuk ke tulang-tulang sampai rasanya dunia ikut retak.
“Kau sudah gagal sebagai Luna.”
Aku berlutut di kubangan lumpur. Dingin dan kotor, tapi itu bukan apa-apa dibanding rasa sakit yang mengoyak dada ketika aku melihat punggungnya menjauh… bersama Celeste yang sedang hamil.
“I, Daemon Blackwood,” ucapnya datar, setajam es, “reject you as my mate.”
Sepuluh tahun.
Aku mencintainya sepuluh tahun—sampai hari itu dia menghancurkanku di depan semua orang lewat upacara penolakan yang digelar terbuka, meninggalkanku demi perempuan lain, lalu mengobarkan perang terhadap pack kami.
Orang tuaku mati saat berusaha melindungiku.
Dan aku mati sendirian—hancur, kering, patah—oleh pengkhianatan lelaki yang dulu kupikir akan jadi rumahku.
Lalu aku membuka mata…
…tiga tahun lebih awal.
Kali ini, aku selesai memohon-mohon cinta Daemon.
“Aku ajukan kesepakatan, Daemon,” kataku saat dia menepis tawaranku untuk memutus ikatan kami seperti menepuk debu dari lengan baju. “Sebentar lagi, kau bukan cuma akan menerima rejection ini—kau akan memintanya.”
Tatapannya menyapu wajahku dengan jijik yang dingin, seolah aku ini noda yang mengganggu pemandangan.
“Aku. Tidak. Meminta.”
Aku menghela napas pelan. Karena aku—yang sudah pernah menjalani semua ini—tahu persis apa yang akan terjadi.
Daemon akan bertemu true mate-nya.
Dia akan jatuh cinta setengah mati pada perempuan itu.
Dan akhirnya… dia akan membebaskanku.
Aku cuma perlu menunggu.
Tapi kemudian…
semuanya jadi aneh.
Lelaki yang dulu bisa menghilang berbulan-bulan tanpa peduli aku hidup atau mati, sekarang justru mengawasi setiap gerakanku. Dia menanyai aku tentang para pria lain—dengan nada seperti interogasi, seperti aku ini miliknya. Seolah ikatan yang ingin dia buang itu mendadak jadi sesuatu yang dia genggam erat.
Dan ketika dia akhirnya bertemu Celeste…
dia tidak menolakku seperti seharusnya.
Dia menolak Celeste.
Bukan aku.

