“Ya Allah… iya… di situ… enak banget,” erangku, sementara mulut dan lidahnya terus mempermainkanku sampai rasanya aku mau hancur.
“Manis banget, Putri,” desisnya serak, tangan besarnya menahan kedua kakiku supaya aku nggak lari dari sentuhannya.
Kalau dari awal aku tahu laki-laki yang tiga minggu ini menguntitku—muncul di depan rumahku seperti bayangan, hadir di tempat-tempat yang seharusnya cuma aku yang tahu—ternyata orang yang sama dengan pria yang setiap hari duduk tenang di kafe milikku, aku pasti sudah kabur jauh-jauh dari Kensington.
Tapi saat aku akhirnya paham, pria itu tipe yang selalu dapat apa yang dia mau. Dan begitu dia memutuskan aku miliknya, aku nggak punya pilihan selain menyerah. Menerima. Membiarkan diriku jatuh ke dalam genggamannya.
Ironisnya, di Kensington aku bukan satu-satunya perempuan yang memperhatikan dia. Hampir semua perempuan yang masih bernapas punya ketertarikan yang sama. Mereka menatapnya terlalu lama, tertawa terlalu nyaring kalau dia sekadar melirik, dan diam-diam berlomba jadi orang yang paling dekat dengannya—seolah-olah kalau berhasil menyentuh Caleb Cross, hidup mereka langsung berubah.
Caleb Cross. Pria itu multi-miliarder, dan entah bagaimana memilih duduk tiap hari di kafe kecil di jalan utama Kensington, menyembunyikan dirinya di balik ketenangan yang rapi.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, dia mengamati aku—Aria Garcia—bergerak dari meja ke meja, menyapa pelanggan, menyajikan kopi dan kue, tersenyum seolah hidupku sederhana. Seolah aku cuma perempuan yang menjaga kafe peninggalan almarhum ibuku dan ingin menjalani hari tanpa ribut.
Padahal Caleb bukan tipe yang datang untuk sekadar menikmati kopi.
Dia menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.
Buat Caleb, dunia selalu seperti film yang terus berputar sesuai kehendaknya, dan aku—si “Nona Garcia” kecil—jadi satu-satunya hal yang benar-benar dia mau dan, yang lebih berbahaya, dia butuhkan, di tengah hidupnya yang kacau.
Hidup Caleb nggak pernah sepi masalah. Ada mantan yang terobsesi padanya sampai pada titik sanggup menyakiti perempuan mana pun yang berani mendekat. Ada rival bisnis yang nggak punya batas, rela melakukan apa saja demi berada di posisi paling atas. Caleb tahu, kehadirannya sendiri sudah cukup memancing perhatian dan prasangka, jadi selama ini dia memilih diam. Menjaga jarak. Tidak bergaul. Tidak melekat pada siapa pun.
Sampai aku.
Aku, Aria Garcia, mengelola kafe mendiang Mama di jalan utama, tempat orang-orang Kensington menganggap aku cuma gadis yang bekerja keras demi mempertahankan warisan keluarga. Mereka nggak tahu apa-apa tentang aku dan partner sekaligus sahabatku, Holly. Nggak ada yang curiga kalau di balik celemek dan rambut yang sering kuikat asal, kami berdua sebenarnya sudah jadi jutawan.
Aku dan Holly membangun perusahaan perangkat lunak dari nol. Proyek yang awalnya cuma dikerjakan berdua di malam-malam panjang, berubah jadi mesin uang yang menghasilkan jutaan. Kami menyembunyikannya rapi, bukan karena takut, tapi karena kami ingin hidup normal—setidaknya di kota kecil ini.
Dan mungkin karena aku percaya normal itu masih mungkin.
Sampai Caleb datang.
Sampai dia menguntit.
Sampai akhirnya aku menyerah.
Dan begitu aku “memberi jalan”, orang-orang di sekeliling mulai mencium sesuatu yang ganjil. Tatapan pelanggan berubah. Bisik-bisik makin sering. Pertanyaan yang tampaknya polos, tapi tajam, mulai dilemparkan.
Caleb bilang dia ingin melindungiku. Katanya, kalau aku bersamanya, tidak ada yang berani menyentuhku.
Masalahnya, justru ketika dia memilihku, masalah itu ikut datang ke Kensington.
Dalam wujud Catherine—mantan Caleb.
Perempuan yang nggak cuma merasa Caleb miliknya, tapi juga rela menghancurkan siapa pun yang berani mengambil tempatnya.
Sekarang aku terjebak di antara genggaman seorang pria yang selalu mendapatkan apa yang dia mau dan dunia yang tiba-tiba memandangku seperti sasaran empuk. Semua orang seolah menunggu aku jatuh. Semua pihak seperti punya alasan untuk memisahkan kami—entah karena iri, takut, atau kepentingan.
Pertanyaannya cuma satu: apakah Caleb benar-benar bisa menjagaku dari semua yang ingin memisahkan kami?
Dan kalau badai itu datang—apakah kami bisa keluar tanpa luka?