3 Book(s) Related to kengan ashura ch

Kematian, Kencan, dan Dilema Lainnya

Kematian, Kencan, dan Dilema Lainnya

511 Dilihat · Sedang Berlangsung · Kit Bryan
Hal pertama yang harus kamu ketahui tentang aku? Secara teknis, aku ini penyihir. Tapi kalau kamu tanya keluargaku, itu berarti aku seharusnya jadi penyihir kecil yang sempurna: dengan patuh menghadiri ritual aneh mereka, bekerja di bisnis keluarga, menikahi pria magis yang sudah disetujui, dan menghasilkan beberapa bayi penyihir yang imut untuk menjaga garis keturunan tetap hidup. Spoiler alert: itu tidak akan terjadi.

Sebaliknya, aku telah menguasai seni menghindari dunia magis. Strategiku? Bersembunyi di balik layar komputer dan menjauh dari semua drama. Itu sebagian besar berhasil—sampai si brengsek di kantor, yang kebetulan juga seorang pembaca pikiran, memutuskan untuk ikut campur dalam kedamaian yang susah payah aku bangun. Lalu dia muncul di kantor dalam keadaan setengah mati, dan tiba-tiba, aku terjebak dalam kekacauan magis yang tidak pernah aku daftarkan.

Sekarang, si brengsek pembaca pikiran yang menyebalkan itu yakin bahwa masalahnya adalah masalahku, tubuh-tubuh yang hilang semakin menumpuk, dan kedua keluarga kami terjerat dalam bencana supernatural ini. Yang aku inginkan hanyalah bermain video game, nongkrong dengan kucingku, dan pura-pura dunia magis tidak ada. Sebaliknya, aku terjebak bermain detektif amatir, berurusan dengan kerabat yang suka ikut campur, dan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan pria yang sama menyebalkannya dan... oke, mungkin sedikit menarik.

Ini? Ini sebabnya aku tidak berkencan.
Asmara di Usia 40 Tahun

Asmara di Usia 40 Tahun

558 Dilihat · Sedang Berlangsung · Helena Naionara
Deborah, perempuan kepala empat, sedang segila orang yang muter-muter ngejar ekornya sendiri sampai pusing tujuh keliling. Entah kenapa, di usia segitu, ia malah nekat mengunduh aplikasi kencan. Dari sana, ia ketemu seorang pria yang muncul di layar dengan nama sederhana: Pak R. Wajahnya—astaga—seolah keluar dari khayalan paling liar yang selama ini cuma berani ia simpan di kepala.

Pak R langsung mengajaknya makan malam. Deborah yang sudah lama lupa rasanya deg-degan, mendadak seperti anak SMA baru diajak jalan. Ia berdandan dengan semangat yang bahkan membuatnya sendiri geli. Di kaca, ia mencoba meyakinkan dirinya: ini cuma makan malam, cuma ngobrol, bukan apa-apa.

Tapi sebelum ia sempat sampai, hidup keburu menggoda dengan cara yang paling memalukan.

Di perjalanan, Deborah bertemu seorang asing. Tatapannya tajam, senyumnya malas, dan caranya berdiri seakan dunia ini miliknya. Semua alarm kewarasan di kepala Deborah sempat bunyi, tapi tubuhnya lebih cepat daripada logika. Ada momen pendek, terlalu dekat, terlalu hangat—lalu ia menyerah. Seolah-olah ia bukan Deborah yang biasanya penuh perhitungan, melainkan seseorang yang sudah terlalu lama menahan lapar.

Setelahnya, rasa bersalah menghantam seperti mabuk yang datang terlambat. Moral hangover—itu kata yang paling pas—membuat tenggorokannya kering dan dadanya sesak. Ia mendadak sadar betapa bodohnya ia. Betapa gampangnya ia terpancing. Tanpa sempat mengucap apa pun yang pantas, Deborah kabur. Cepat, panik, seperti kucing liar yang baru saja disiram air.

Dan ia berusaha mengubur semuanya di bawah karpet, pura-pura itu cuma insiden yang tidak akan pernah muncul lagi.

Takdir, ternyata, suka bercanda dengan cara paling kejam.

Keesokan harinya, kantor kedatangan pimpinan baru.

Deborah masih sempat merapikan meja, menyeduh kopi, menyiapkan wajah netral—sampai pintu ruang rapat terbuka dan pria itu masuk. Pria asing yang semalam membuatnya kehilangan akal. Orang yang sentuhannya masih terasa seperti bekas panas di kulitnya.

Dia berdiri di depan semua orang, memperkenalkan diri dengan suara tenang yang membuat bulu kuduk Deborah berdiri.

Itu bos barunya.

Deborah menelan ludah. Jantungnya seakan jatuh ke tumit.

Sejak saat itu, hari-harinya berubah jadi perang sunyi. Di kantor, ia harus memasang ekspresi profesional, memilih kata-kata yang aman, menjaga jarak yang sopan—sementara di dalam dirinya ada api yang menyala setiap kali mata mereka bertemu. Setiap kali pria itu menoleh, setiap kali namanya dipanggil, setiap kali ia lewat di belakang kursinya dan aroma parfumnya menyelinap masuk ke napas Deborah.

Ia harus bertahan di tengah ketegangan yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tapi selalu ada—menggantung di udara ruang kerja seperti listrik yang siap menyambar.

Dan yang paling menyiksa: ia harus pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa, padahal ia tahu, lelaki brengsek itu juga mengingatnya. Terlalu jelas dari cara senyumnya tertahan, dari tatapannya yang seolah berkata: kita punya rahasia.

Deborah cuma bisa menggertakkan gigi dan berjanji pada diri sendiri: ia tidak akan jatuh lagi.

Masalahnya, setiap kali ia menatap mata pria itu, janji itu terasa seperti lelucon.
1