4 Book(s) Related to gildarts and shanks

SESUATU SEPERTI BENCI

SESUATU SEPERTI BENCI

395 Dilihat · Sedang Berlangsung · Shabs Shabs
Arianna:

Hari itu seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan cinta, tapi dia mengubahnya menjadi mimpi buruk. Aku masih mencari tahu apa yang telah kulakukan hingga pantas menerima kemarahannya. Dia memaksaku bersumpah untuk tidak pernah muncul di hadapannya lagi, dan aku menuruti... sampai sekarang.

XANDER:

Dia adalah segalanya bagiku, inti dari keberadaanku. Tapi kemudian semuanya hancur. Malam sebelum kami bersatu selamanya, aku menemukan pengkhianatannya dan melihat warna aslinya. Hancur, aku memutuskan semua hubungan dan memaksanya berjanji untuk menghilang dari hidupku. Selama dua tahun, dia menjauh... sampai sekarang.
OBSESI ALEXANDER

OBSESI ALEXANDER

780 Dilihat · Sedang Berlangsung · Shabs Shabs
“Kamu… kamu jual aku?” Suara Alya pecah, tapi ayahnya bahkan tak sanggup menatap matanya. Tatapan Pak Ardi melayang ke lantai, seolah mencari celah untuk kabur dari kenyataan.

“Orang Solas yang nawar paling tinggi.”

Dunia Alya terasa miring. Ia mundur satu langkah, lalu satu lagi, sampai punggungnya hampir menabrak meja. Namun sebelum ia sempat lari, seorang pria meraih dirinya.

Raka Dimitri.

Telapak tangannya besar, panas, dan tak punya ampun saat menjepit leher Alya—bukan cukup untuk membuatnya pingsan, tapi cukup untuk mengingatkan siapa yang berkuasa. Napas Alya tercekat.

Dalam satu gerakan, Raka membanting Pak Ardi ke dinding. Bunyi punggung tubuh menghantam tembok membuat Alya menggigil.

“Dia punya gue.” Suara Raka rendah, serak, seperti geraman yang ditahan. Matanya dingin, tajam, dan sama sekali tidak memuat belas kasihan. “Cuma gue yang berhak nyentuh dia.”

Alya mencoba meronta, tapi cengkeramannya seperti borgol. Raka menyeretnya keluar, melewati ruang tamu yang mendadak terasa asing, lalu menurunkannya ke halaman. Angin malam menusuk kulit, tapi tak ada yang lebih dingin dari kepanikan yang menggerogoti dadanya.

Mobil hitamnya sudah menunggu di depan pagar.

Raka membuka pintu belakang dan melemparkan Alya ke jok seolah ia tak lebih dari barang. Tubuh Alya terpental, napasnya sesak. Sebelum ia sempat duduk tegak, Raka sudah menyusul, menutup pintu dengan bunyi yang memutus kemungkinan apa pun—teriakannya, pelariannya, harapannya.

Ia merangkak naik ke atas Alya, berat tubuhnya menekan, menahan setiap gerakan. Alya menoleh, mencoba menghindari wajahnya, tapi Raka justru mendekat.

“Bapak lo jual lo buat jadi pelacur, Alya.” Bisikannya menempel di telinga, hangat dan memuakkan. Ia menggigit cuping telinga Alya, pelan tapi menyakitkan. “Tapi sekarang… lo pelacur gue.”

Alya menahan napas, jantungnya menendang-nendang rusuk. Gaun tipisnya terasa seperti kertas yang tak berarti di bawah sentuhan kasar pria itu. Raka menggesekkan tubuhnya, sengaja, menghina, seperti sedang menandatangani kepemilikan.

“Dan gue bakal pakai lo tiap malam,” ucapnya, nada suaranya datar seolah sedang membicarakan jadwal rutin, “sampai utang itu lunas.”

Tangannya menyibak kain dalam Alya dengan sekali tarik. Alya tersentak, tubuhnya menegang sampai ujung jari.

“Mulai sekarang.”


Di dunia yang diisi transaksi kotor, pengkhianatan, dan persekutuan yang bisa berubah jadi jebakan kapan saja, Alya Santini terseret ke pusaran yang tak pernah ia pilih. Di satu sisi ada ayahnya, Pak Ardi—penjudi yang hobi cari masalah, kebiasaan lama yang selalu berakhir dengan musuh baru, dan utang segila apa pun yang tak akan bisa ditebus dengan permintaan maaf.

Di sisi lain ada Raka Dimitri—nama yang membuat orang menelan ludah sebelum berani menyebutnya keras-keras. Saat ia menerobos masuk ke hidup Alya, tangan menggenggam pistol, matanya kelabu dingin seperti langit sebelum badai, ia tak datang untuk negosiasi. Ia datang membawa keputusan.

Uang yang dicuri harus kembali. Atau, Raka akan mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Pak Ardi.

Raka bukan sekadar penagih utang. Ia predator yang hidup dari rasa takut orang lain, dari kuasa yang ia tanamkan lewat tatapan dan sentuhan. Dan saat ia menyadari Alya adalah titik lemah ayahnya—sesuatu yang masih bisa membuat Pak Ardi gemetar—Raka mengambilnya sebagai pembayaran, mengira Alya hanya sekeping “jaminan” untuk menutup utang.

Namun Alya segera mengerti: di mata Raka, ia bukan jaminan. Ia sasaran.
Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

Lahir Kembali di Tahun 80-an, Suami Sibuk Memanjakan Istri

896 Dilihat · Sedang Berlangsung · Lysandra Veyne
Pada abad ke-24, seorang pemuda bernama Cui Xiaoyu mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya terlempar ke tahun 80-an, menjadi seorang gadis biasa dari keluarga petani miskin di desa.

Katanya sih bakal menikmati kehidupan pedesaan yang santai, tapi kenapa baru saja sampai malah hampir dijual oleh pedagang manusia? Dia harus mengurus makanan keluarganya, dan juga menghadapi dua paman yang memandangnya seperti musuh!

Orang lain yang terlempar ke masa lalu biasanya punya "cheat" yang membuat hidup mereka lancar dan sukses. Tapi dia hanya punya sepasang mata yang bisa melihat segala sesuatu dengan jelas. Di zaman yang keras ini, mata seperti itu berguna buat apa?

Jadi, dia hanya bisa bekerja keras menanam jagung, mencari sumber air, dan melihat apakah ada tambang tersembunyi di sekitar sini! Dia tidak percaya bahwa dengan otaknya ini, dia bisa mati kelaparan di zaman kekeringan ini!

Dengan menendang paman yang jahat dan memukul preman tambang di desa, dia akan membawa seluruh keluarga Cui menuju jalan kekayaan!
Raja Para Alfa

Raja Para Alfa

286 Dilihat · Sedang Berlangsung · Ana Karoline Mendes
Ditolak habis-habisan oleh belahan jiwa yang selama ini kupercaya ditakdirkan untukku, aku lari dari sakit hati dan mencari pegangan di pelukan seorang asing. Ada sesuatu pada dirinya—tatapan yang dalam, wibawa yang menyesakkan dada—yang membuatku tak mampu menolak, seolah tubuhku sudah lebih dulu menyerah sebelum pikiranku sempat bertahan.

Malam itu berubah jadi badai. Hasrat, amarah, dan kesepian bercampur jadi satu, menenggelamkanku sampai aku lupa siapa diri sendiri. Aku mengira aku hanya membiarkan diriku jatuh pada orang yang tak akan pernah kutemui lagi setelah fajar.

Aku salah.

Aku baru paham setelah semuanya terlambat—bahwa lelaki yang kupilih untuk melupakan takdir justru adalah takdir yang lebih besar: Raja Kaum Serigala.

Dan kini, di dalam rahimku tumbuh pewaris takhtanya.

Aku terjepit di antara dua hal yang sama-sama berbahaya: menolak tarikan dirinya yang seperti hipnosis, atau membiarkan ikatan rapuh di antara kami tumbuh hingga cukup kuat untuk menyelamatkan kami berdua. Setiap kali ia mendekat, udara terasa lebih berat. Suaranya seperti perintah yang tak terdengar namun ditaati. Kehadirannya membuatku ingin kabur sekaligus ingin pulang—padahal aku bahkan tak tahu di mana rumahku lagi.

Di luar sana, bayang-bayang bergerak mengincar kami. Ancaman datang dari lorong-lorong gelap, dari bisik-bisik yang berhenti saat aku lewat, dari mata-mata yang terlalu lama menatap. Ada yang tak sudi melihat seorang perempuan tanpa nama, tanpa darah bangsawan, membawa calon raja.

Setiap pertemuan dengannya menguji tekadku.

Ia bukan hanya lelaki. Ia mahkota, hukum, dan kutukan. Di balik sikap dinginnya, ada sesuatu yang menuntut—bukan sekadar tubuhku, tapi kepercayaanku. Dan setiap kali ia menyebut anak itu, suaranya melembut seperti ia sedang memegang sesuatu yang mudah pecah. Aku ingin percaya kelembutan itu nyata, bukan sekadar cara lain untuk menundukkanku.

Namun bagaimana caranya mencintai seseorang yang hidupnya milik takhta? Bagaimana caranya melindungi sebuah ikatan ketika dunia terus menajamkan pisau?

Aku tahu, aku harus memilih: menyerah pada rasa yang pelan-pelan tumbuh di antara kami, atau bertahan pada akal sehat yang terus berteriak agar aku lari sebelum mahkota itu menghancurkan semuanya.

Karena di dunia serigala, cinta sering kalah oleh kewajiban.

Dan aku takut—bukan pada gelap, bukan pada kematian—melainkan pada kemungkinan bahwa aku akan jatuh terlalu dalam, lalu ditinggalkan lagi. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena beratnya mahkota di kepalanya tak pernah mengizinkan siapa pun untuk benar-benar bahagia.
1