Diperbudak oleh Pasangan Alfaku
769 Dilihat · Sedang Berlangsung · Jaylee
“Kamu nggak boleh bilang ke siapa pun kalau kita itu pasangan.”
Tubuhku gemetar. Aku menatap monster baruku ini, memohon dengan mata yang hampir pecah. “Kalau gitu tolak aku aja, biar kita nggak jadi apa-apa.”
“Kalau aku nolak, sama aja aku nyuruh mereka ngehukum mati kamu.”
“Bagus.”
Dia tersentak, lalu menatapku seakan baru sadar apa yang barusan keluar dari mulutku. Mata itu—yang tadinya dingin—mencair jadi emas cair saat dia mengamatiku lama. “Nggak. Aku nggak akan ngasih kamu jalan kabur.”
“Kalau gitu gue yang nolak lo!” bentakku, panasnya amarah mendidih di perut.
Tangannya menyambar leherku. Sentuhan itu memantik panas yang menggigit kulit. “Coba aja,” suaranya rendah dan tajam. “Kalau kamu berani, aku bakal balikin kamu ke penjara itu dan pura-pura kamu nggak pernah ada.” Tatapannya turun ke bibirku, dan seketika matanya menghitam saat dia melanjutkan, “Aku juga nggak bisa nolak kamu sebelum aku punya penerus.”
“Ya lo harus paksa aja dari gue!” sahutku, menyengat.
Dia tertawa pelan, gelap, seperti suara yang lahir dari sesuatu yang nggak manusiawi. “Bukan dari kamu. Dari Luna-ku nanti.”
Aku benci fakta kalau kata-kata itu sukses melukai. Dadaku terasa terbakar, dan air mata mengaburkan pandangan. Yang lebih menyebalkan, dia sadar. Wajahnya melunak—sekejap.
Secepat itu juga amarahku balik menyala. “Kalau gitu gue bakal bunuh lo.”
Dia menyeringai, mendekat sampai mulutnya menggantung tepat di atas mulutku, napasnya menyapu bibirku seperti ancaman. “Silakan coba. Karena kalau kamu gagal…” suaranya merendah, pekat, “aku bakal ngeluarin marahku ke pantat kecil kamu yang manis itu.”
Blanca akan dihukum mati karena pembunuhan. Saat detik yang ditunggu akhirnya tiba, dia merasakan ikatan itu—pasangannya.
Ternyata dia adalah Alfa baru: Max, adik laki-laki dari pria yang Blanca bunuh.
Ketika Max menghentikan eksekusi, secercah harapan sempat berkilat—sampai Max menyatakan bahwa dia berniat membuat Blanca menderita. Dan ketika sebuah rencana balas dendam mengancam merenggut Blanca darinya untuk selamanya, akankah Max mempertaruhkan segalanya agar Blanca aman dalam pelukannya? Atau Blanca akan mati tanpa pernah tahu alasan sebenarnya kenapa Max membiarkannya tetap hidup sejak awal?
Tubuhku gemetar. Aku menatap monster baruku ini, memohon dengan mata yang hampir pecah. “Kalau gitu tolak aku aja, biar kita nggak jadi apa-apa.”
“Kalau aku nolak, sama aja aku nyuruh mereka ngehukum mati kamu.”
“Bagus.”
Dia tersentak, lalu menatapku seakan baru sadar apa yang barusan keluar dari mulutku. Mata itu—yang tadinya dingin—mencair jadi emas cair saat dia mengamatiku lama. “Nggak. Aku nggak akan ngasih kamu jalan kabur.”
“Kalau gitu gue yang nolak lo!” bentakku, panasnya amarah mendidih di perut.
Tangannya menyambar leherku. Sentuhan itu memantik panas yang menggigit kulit. “Coba aja,” suaranya rendah dan tajam. “Kalau kamu berani, aku bakal balikin kamu ke penjara itu dan pura-pura kamu nggak pernah ada.” Tatapannya turun ke bibirku, dan seketika matanya menghitam saat dia melanjutkan, “Aku juga nggak bisa nolak kamu sebelum aku punya penerus.”
“Ya lo harus paksa aja dari gue!” sahutku, menyengat.
Dia tertawa pelan, gelap, seperti suara yang lahir dari sesuatu yang nggak manusiawi. “Bukan dari kamu. Dari Luna-ku nanti.”
Aku benci fakta kalau kata-kata itu sukses melukai. Dadaku terasa terbakar, dan air mata mengaburkan pandangan. Yang lebih menyebalkan, dia sadar. Wajahnya melunak—sekejap.
Secepat itu juga amarahku balik menyala. “Kalau gitu gue bakal bunuh lo.”
Dia menyeringai, mendekat sampai mulutnya menggantung tepat di atas mulutku, napasnya menyapu bibirku seperti ancaman. “Silakan coba. Karena kalau kamu gagal…” suaranya merendah, pekat, “aku bakal ngeluarin marahku ke pantat kecil kamu yang manis itu.”
Blanca akan dihukum mati karena pembunuhan. Saat detik yang ditunggu akhirnya tiba, dia merasakan ikatan itu—pasangannya.
Ternyata dia adalah Alfa baru: Max, adik laki-laki dari pria yang Blanca bunuh.
Ketika Max menghentikan eksekusi, secercah harapan sempat berkilat—sampai Max menyatakan bahwa dia berniat membuat Blanca menderita. Dan ketika sebuah rencana balas dendam mengancam merenggut Blanca darinya untuk selamanya, akankah Max mempertaruhkan segalanya agar Blanca aman dalam pelukannya? Atau Blanca akan mati tanpa pernah tahu alasan sebenarnya kenapa Max membiarkannya tetap hidup sejak awal?



