“Buka buat aku, sayang…” pintanya lirih, dan aku langsung lunglai.
Tangannya menyelinap di antara pahaku, lalu lagi-lagi ia mulai mengusapku—pelan, teliti, seolah ingin mengenal setiap bagianku, dari luar sampai ke dalam. Rasanya seumur hidup, belum pernah ada laki-laki yang menyentuhku seperti ini.
Tapi Ethan nggak berniat berhenti. Ia menggesek, menekan, dan aku tak sanggup menahan diri ketika tangisku pecah karena nikmat, punggungku melengkung, seluruh tubuhku gemetar. Kedua tanganku menekan punggungnya, kuku-kukuku menancap.
Ia mendorong satu jarinya masuk, keluar dan masuk lagi, sementara ibu jarinya mengusap titik itu—yang selalu bikin aku kehilangan akal. Ia terus melakukannya, menaikkan sensasi di dalam tubuhku makin tinggi, makin tinggi, sampai aku nyaris mencapai puncak.
“Ethan… astaga…” erangku, nyaris tak bisa merangkai kata.
Aku terlalu sibuk mengatur napas, mengerang, berusaha tetap waras. Aku menjerit pelan, mendorong panggulku ke arah tangannya karena aku mau lebih—lebih dan lebih.
Apa yang akan kamu lakukan kalau laki-laki yang pernah menghancurkan hidupmu tiba-tiba muncul lagi?
Priscilla mendapati klien baru terpenting di kantornya adalah orang dari masa kecilnya—cinta pertamanya—tapi juga laki-laki yang menghantui masa remajanya.
Dia masih ingat jelas suara itu berkata… “Ngapain sih lo mau jalan sama… cewek itu? Lo mau jadi bahan ketawaan? Kecuali lo suka cewek yang… kegendutan… kayak babi kecil,” dan sejak saat itu mimpi buruknya dimulai.
Tapi sekarang Ethan kembali—dan yang ia lakukan cuma memburu Priscilla.
Apa Priscilla bisa melupakan apa yang sudah dia lakukan? Bisa nggak dia lari dari Ethan? Kenapa tiba-tiba Ethan begitu tertarik padanya setelah sekian lama?