Penyesalan Sang Alpha: Luna-nya yang Ditolak.
786 Dilihat · Sedang Berlangsung · arcikarnalreads
“Kalau suatu hari gue harus nikah sama siapa pun, demi nyawa gue sendiri, itu nggak akan pernah sama lo!”
Telunjuknya nyaris menancap ke dada gue waktu dia nunjuk gue. Tatapannya menyala—bukan cuma marah, tapi benci.
“Dan gue jelasin sekalian, Taylor. Kalau—kalau lo sampai dapet kemauan lo, bikin gue jadi suami lo… pasangan lo,” dia membetulkan dengan nada seperti kata itu sendiri bikin dia muak.
“Gue bakal pastiin gue bareng betina-betina serigala lain, dan gue bakal pastiin lo ngerasain tiap sakitnya dikhianatin. Gue bakal bikin lo ngerasain persis kayak yang gue rasain waktu lo ngebunuh Odelia gue.”
Dia melangkah makin dekat. Tenggorokan belakang gue perih, air mata udah ngumpul di pelupuk, tinggal jatuh.
Odelia selalu jadi anak emas. Dari dulu. Bahkan setelah dia mati pun, namanya masih dielu-elukan seolah dia masih bernapas di tengah-tengah mereka.
Sementara Taylor? Taylor selalu jadi yang dilewatin. Yang nggak pernah dipandang. Yang kehadirannya cuma bikin orang mengernyit, atau pura-pura nggak lihat.
Dan setelah Odelia mati, yang berubah bukan keadaan Taylor jadi lebih baik. Justru sebaliknya.
Kalau dulu dia cuma diabaikan, sekarang dia jadi sasaran kebencian. Jadi bahan olok-olok. Jadi tempat mereka melampiaskan amarah. Seolah kematian Odelia punya satu alamat, dan alamat itu adalah Taylor.
Semua orang berharap Taylor mati—termasuk orang tuanya sendiri. Termasuk Killian, pasangan yang ditakdirkan untuknya.
Dia nggak pernah benar-benar dicintai siapa pun. Hidupnya selalu di bawah bayang-bayang kakaknya, selalu jadi “yang satunya” dalam kalimat yang orang ucapkan sambil mendesah. Tapi setelah kematian Odelia, bayang-bayang itu berubah jadi belati yang menancap dari segala arah.
Taylor tetap menanggung rasa bersalah itu, meski dia sendiri nggak pernah minta dipilih. Meski itu kehendak Dewi Bulan—nama yang selalu disebut-sebut dengan hormat di antara para serigala.
Sampai akhirnya dia sadar sesuatu yang bikin dadanya seolah diremas: Killian—yang sejak kecil menganggap Odelia calon Luna masa depan, yang mengira hidupnya akan berakhir di sisi Odelia—ternyata justru terikat sebagai pasangan dengan Taylor.
Ironis. Kejam. Seperti permainan takdir yang sengaja dibuat untuk mempermalukan dia.
Taylor sudah lama memimpikan punya pasangan. Tapi bukan begini caranya. Bukan pria yang sepanjang hidupnya memandangnya dengan jijik, yang selalu mengejek, selalu menantang, dan bahkan pernah memanggil namanya dengan nama Odelia, seolah Taylor cuma pengganti yang salah tempat.
Di ambang hancur, Taylor mengambil keputusan yang cuma dimiliki orang yang sudah kehabisan harapan.
Dia memaksa Killian menerima penolakannya.
Tapi apa yang akan terjadi ketika Killian akhirnya mengetahui kebenaran di balik semua ini—ketika dia sadar ada plot yang lebih besar dari kebenciannya sendiri, dan penyesalan itu datang terlambat?
Akankah dia mengejar Taylor?
Akankah Taylor memaafkannya dan menerimanya?
Atau kebencian yang sudah telanjur tumbuh itu akan mengunci hatinya selamanya—dan membawanya pada pria lain yang memang ditakdirkan untuknya?
Telunjuknya nyaris menancap ke dada gue waktu dia nunjuk gue. Tatapannya menyala—bukan cuma marah, tapi benci.
“Dan gue jelasin sekalian, Taylor. Kalau—kalau lo sampai dapet kemauan lo, bikin gue jadi suami lo… pasangan lo,” dia membetulkan dengan nada seperti kata itu sendiri bikin dia muak.
“Gue bakal pastiin gue bareng betina-betina serigala lain, dan gue bakal pastiin lo ngerasain tiap sakitnya dikhianatin. Gue bakal bikin lo ngerasain persis kayak yang gue rasain waktu lo ngebunuh Odelia gue.”
Dia melangkah makin dekat. Tenggorokan belakang gue perih, air mata udah ngumpul di pelupuk, tinggal jatuh.
Odelia selalu jadi anak emas. Dari dulu. Bahkan setelah dia mati pun, namanya masih dielu-elukan seolah dia masih bernapas di tengah-tengah mereka.
Sementara Taylor? Taylor selalu jadi yang dilewatin. Yang nggak pernah dipandang. Yang kehadirannya cuma bikin orang mengernyit, atau pura-pura nggak lihat.
Dan setelah Odelia mati, yang berubah bukan keadaan Taylor jadi lebih baik. Justru sebaliknya.
Kalau dulu dia cuma diabaikan, sekarang dia jadi sasaran kebencian. Jadi bahan olok-olok. Jadi tempat mereka melampiaskan amarah. Seolah kematian Odelia punya satu alamat, dan alamat itu adalah Taylor.
Semua orang berharap Taylor mati—termasuk orang tuanya sendiri. Termasuk Killian, pasangan yang ditakdirkan untuknya.
Dia nggak pernah benar-benar dicintai siapa pun. Hidupnya selalu di bawah bayang-bayang kakaknya, selalu jadi “yang satunya” dalam kalimat yang orang ucapkan sambil mendesah. Tapi setelah kematian Odelia, bayang-bayang itu berubah jadi belati yang menancap dari segala arah.
Taylor tetap menanggung rasa bersalah itu, meski dia sendiri nggak pernah minta dipilih. Meski itu kehendak Dewi Bulan—nama yang selalu disebut-sebut dengan hormat di antara para serigala.
Sampai akhirnya dia sadar sesuatu yang bikin dadanya seolah diremas: Killian—yang sejak kecil menganggap Odelia calon Luna masa depan, yang mengira hidupnya akan berakhir di sisi Odelia—ternyata justru terikat sebagai pasangan dengan Taylor.
Ironis. Kejam. Seperti permainan takdir yang sengaja dibuat untuk mempermalukan dia.
Taylor sudah lama memimpikan punya pasangan. Tapi bukan begini caranya. Bukan pria yang sepanjang hidupnya memandangnya dengan jijik, yang selalu mengejek, selalu menantang, dan bahkan pernah memanggil namanya dengan nama Odelia, seolah Taylor cuma pengganti yang salah tempat.
Di ambang hancur, Taylor mengambil keputusan yang cuma dimiliki orang yang sudah kehabisan harapan.
Dia memaksa Killian menerima penolakannya.
Tapi apa yang akan terjadi ketika Killian akhirnya mengetahui kebenaran di balik semua ini—ketika dia sadar ada plot yang lebih besar dari kebenciannya sendiri, dan penyesalan itu datang terlambat?
Akankah dia mengejar Taylor?
Akankah Taylor memaafkannya dan menerimanya?
Atau kebencian yang sudah telanjur tumbuh itu akan mengunci hatinya selamanya—dan membawanya pada pria lain yang memang ditakdirkan untuknya?
