Alpha Ethan Tidak Bisa Mencintai!
1.1k Dilihat · Sedang Berlangsung · Sadie Newton
Erangan rendah bergetar di tenggorokanku saat lidah kami saling menyapa. Tapi aku mendadak memutus ciuman itu, lalu secepat kilat membalikkan tubuhnya hingga ia bertumpu pada kedua tangan dan lutut. Tanpa membuang sedetik pun, aku menghunjam lagi, dalam, keras.
Napasnya tercekat kaget, lalu cepat berubah jadi rintihan-rintihan panjang ketika kedua tanganku mengunci pinggulnya, mendorongnya maju mundur mengikuti ritme yang kubuat.
Tanganku meluncur menuruni tulang punggungnya.
“Turun,” bisikku serak. “Dada tempelin kasur.”
Ia merengek pelan, tapi menuruti, seperti sedang didorong makin tinggi, makin dekat ke puncak oleh setiap doronganku. Satu tanganku pindah ke belakang lehernya, menahan posisinya.
“Sial… kamu basah banget. Ketat banget.” Suaraku patah di sela napas. “Kamu suka begini, kan? Kamu suka aku.”
Ia mengerang mendengar kata-kataku. Ketika tangan satuku yang bebas menepuk bokongnya beberapa kali, ia menjerit kecil. Namun ia justru mendorong balik, membuatku makin dalam menancap, nyaris habis.
🐺 🐺 🐺
Aku cuma punya satu tugas.
Mematahkan kutukan busuk yang menghalangiku menemukan pasangan takdirku.
Cari penyihir jahat itu. Bunuh dia.
Jangan libatkan diri dengan siapa pun di tengah jalan.
Masalah pertama?
Aku baru saja melewati satu malam dengan Alya. Dan entah kenapa, seketika itu juga, hatiku yang dingin malah haus akan hangatnya, ingin tenggelam di sana lebih lama.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah bertemu Alya lagi.
Masalah kedua?
Aku bertemu dia lagi.
Dia datang dalam keadaan putus asa bersama anak laki-lakinya yang masih kecil, mendadak mencari tempat berlindung di rumah kawanan kami—sama sekali tidak tahu kalau aku sebenarnya manusia serigala.
Aku kenal anaknya. Aku pernah menolongnya ketika dia tanpa sengaja berubah jadi manusia serigala—dan Alya juga tidak tahu soal itu.
Masalah ketiga?
Aku tanpa sengaja memanggil Alya, “Milikku!”
Napasnya tercekat kaget, lalu cepat berubah jadi rintihan-rintihan panjang ketika kedua tanganku mengunci pinggulnya, mendorongnya maju mundur mengikuti ritme yang kubuat.
Tanganku meluncur menuruni tulang punggungnya.
“Turun,” bisikku serak. “Dada tempelin kasur.”
Ia merengek pelan, tapi menuruti, seperti sedang didorong makin tinggi, makin dekat ke puncak oleh setiap doronganku. Satu tanganku pindah ke belakang lehernya, menahan posisinya.
“Sial… kamu basah banget. Ketat banget.” Suaraku patah di sela napas. “Kamu suka begini, kan? Kamu suka aku.”
Ia mengerang mendengar kata-kataku. Ketika tangan satuku yang bebas menepuk bokongnya beberapa kali, ia menjerit kecil. Namun ia justru mendorong balik, membuatku makin dalam menancap, nyaris habis.
🐺 🐺 🐺
Aku cuma punya satu tugas.
Mematahkan kutukan busuk yang menghalangiku menemukan pasangan takdirku.
Cari penyihir jahat itu. Bunuh dia.
Jangan libatkan diri dengan siapa pun di tengah jalan.
Masalah pertama?
Aku baru saja melewati satu malam dengan Alya. Dan entah kenapa, seketika itu juga, hatiku yang dingin malah haus akan hangatnya, ingin tenggelam di sana lebih lama.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah bertemu Alya lagi.
Masalah kedua?
Aku bertemu dia lagi.
Dia datang dalam keadaan putus asa bersama anak laki-lakinya yang masih kecil, mendadak mencari tempat berlindung di rumah kawanan kami—sama sekali tidak tahu kalau aku sebenarnya manusia serigala.
Aku kenal anaknya. Aku pernah menolongnya ketika dia tanpa sengaja berubah jadi manusia serigala—dan Alya juga tidak tahu soal itu.
Masalah ketiga?
Aku tanpa sengaja memanggil Alya, “Milikku!”























![Kiamat: Menjadi Alpha Tertinggi Setelah Melintasi Dunia [Yuri ABO]](https://cover.readink.app/prod/img/cover/bb527b62852646c7ae3f09840f32f7db.jpg?x-oss-process=image/format,webp/resize,m_fill,w_240,h_320)




