Adonis Bertatoo - Romansa Mafia
968 Dilihat · Sedang Berlangsung · nicolefox859
Sahabat gue ngirimin pria asing yang super ganteng itu pesan suara...
Isinya gue bilang gue pengin manjat dia kayak manjat pohon.
Dan dia barusan. Bales. Chat.
Salah anjingnya, sih, sebenernya.
Kalau aja anjing gede yang gue ajak jalan ini—seekor anjing raksasa yang sama sekali belum terlatih—punya sopan santun sedikit, gue nggak bakal berakhir begini:
Tali anjing gue melilit tubuh pria paling mematikan yang pernah gue lihat seumur hidup.
Untungnya, dia santai banget menanggapinya.
(Meski leluconnya, “Anjing itu biasanya mirip pemiliknya,” rasanya nyelekit pas Rufus malah mulai menggesek-gesekkan badan ke kakinya.)
Dia ninggalin gue kartu nama dan senyum yang bikin lutut gue seolah mau ambruk.
Gue masih nggak percaya sama apa yang baru kejadian ketika gue dan sahabat gue lanjut jalan lagi.
“Kayaknya ada yang naksir dikit,” tuduhnya, nada suaranya penuh kemenangan.
Karena gugup dan otak gue masih nge-lag, gue nyeletuk, “Gue bakal ngunci pinggang dia pake kaki gue lebih kenceng dari tali itu.”
NAH, di situlah dia nunjukin kalau ternyata dia merekam jawaban gue.
NAH, di situlah dia nyengir paling setan yang pernah gue lihat dan bilang, “Sama-sama, ya.”
Dan NAH, di situlah dia nyodorin ponsel gue dan ngasih tahu...
Dia ngirim rekamannya ke pria itu.
Jantung gue naik sampai kerongkongan saat tiga titik kecil itu muncul di layar...
Lalu masuk satu pesan.
“BUKTIIN.”
Isinya gue bilang gue pengin manjat dia kayak manjat pohon.
Dan dia barusan. Bales. Chat.
Salah anjingnya, sih, sebenernya.
Kalau aja anjing gede yang gue ajak jalan ini—seekor anjing raksasa yang sama sekali belum terlatih—punya sopan santun sedikit, gue nggak bakal berakhir begini:
Tali anjing gue melilit tubuh pria paling mematikan yang pernah gue lihat seumur hidup.
Untungnya, dia santai banget menanggapinya.
(Meski leluconnya, “Anjing itu biasanya mirip pemiliknya,” rasanya nyelekit pas Rufus malah mulai menggesek-gesekkan badan ke kakinya.)
Dia ninggalin gue kartu nama dan senyum yang bikin lutut gue seolah mau ambruk.
Gue masih nggak percaya sama apa yang baru kejadian ketika gue dan sahabat gue lanjut jalan lagi.
“Kayaknya ada yang naksir dikit,” tuduhnya, nada suaranya penuh kemenangan.
Karena gugup dan otak gue masih nge-lag, gue nyeletuk, “Gue bakal ngunci pinggang dia pake kaki gue lebih kenceng dari tali itu.”
NAH, di situlah dia nunjukin kalau ternyata dia merekam jawaban gue.
NAH, di situlah dia nyengir paling setan yang pernah gue lihat dan bilang, “Sama-sama, ya.”
Dan NAH, di situlah dia nyodorin ponsel gue dan ngasih tahu...
Dia ngirim rekamannya ke pria itu.
Jantung gue naik sampai kerongkongan saat tiga titik kecil itu muncul di layar...
Lalu masuk satu pesan.
“BUKTIIN.”


