LUNA TERKUTUK
445 Dilihat · Selesai · nweyeogbobula
Dia melangkah mendekat. Seperti pemangsa yang mengitari mangsanya.
“Kalian tadi ngomongin seks.”
Jantung gue loncat.
“Enggak, kok.”
Alisnya yang gelap terangkat.
“Yang berantakan,” ucapnya malas. “Kata lo.”
Panas mekar di dada gue.
“Lo nguping.”
Saat gue sampai di depannya, dia sudah turun berlutut lalu duduk rendah di hadapan gue, satu tangan bertumpu di sandaran kursi. Aromanya menghantam gue—bau asap dan kayu yang tajam. “Dan gue nggak suka yang gue denger.”
Rasa memiliki menyusup di tiap katanya, pekat dan berat.
Perut gue berputar dengan cara yang bikin gue muak karena gue tahu persis arti semua ini.
“Lo nggak punya hak atas gue.”
Dia mencondongkan tubuh, seperti selalu. Bibirnya menyapu daun telinga gue.
“Oh, punya.”
Gue menggigil.
Jarinya meraih pergelangan tangan gue, ibu jarinya membuat lingkaran pelan di atas denyut nadi gue. Napas gue nyangkut. Dia selalu begini—membuka gue pelan-pelan, gampang banget.
“Lo nggak bisa nyeret gue pergi tiap kali ada orang nyebut—”
Mulutnya melengkung di rahang gue.
“Bisa.”
Jantung gue menggedor.
Bangsat arogan.
Luna Elara dari Kelompok Bulan Sabit memergoki perselingkuhan suaminya dengan saudara perempuannya sendiri, lalu dijebloskan ke ruang bawah tanah, tempat keputusasaan membangunkan garis darah peramal dalam dirinya. Alpha dingin bernama Axel menyeretnya pergi untuk menyelamatkan ibunya yang sekarat—Luna muak dengan tiraninya, Axel jijik pada pembangkangannya, dan sejak pertemuan pertama mereka sudah saling siap menerkam.
Meski saling membenci, mereka berkali-kali menyelamatkan satu sama lain di ambang hidup dan mati; meski terus beradu, mereka juga yang menutup luka masing-masing saat malam mengental dan sunyi menelan segalanya. Luna yakin Axel cuma pemanfaat lain seperti mantan suaminya, sementara Axel percaya Luna takkan pernah benar-benar peduli padanya.
Sampai malam bulan darah, ketika Luna menangkis bilah mematikan yang ditujukan untuk Axel. Sampai detik di antara hidup dan mati, ketika Axel mengkhianati semua prinsipnya demi dia—barulah mereka sadar, terpukul, bahwa jeratan yang lahir dari kebencian itu sudah lama berubah jadi pengabdian yang tak bisa dilepaskan.
Ketika kuil kuno menuntut korban darah, ketika musuh mengepung dari segala arah, bisakah dua orang yang dulu saling memusuhi ini menelan prasangka mereka dan menghadapi takdir bersama—atau mereka akan saling mengkhianati lagi di detik terakhir?
“Kalian tadi ngomongin seks.”
Jantung gue loncat.
“Enggak, kok.”
Alisnya yang gelap terangkat.
“Yang berantakan,” ucapnya malas. “Kata lo.”
Panas mekar di dada gue.
“Lo nguping.”
Saat gue sampai di depannya, dia sudah turun berlutut lalu duduk rendah di hadapan gue, satu tangan bertumpu di sandaran kursi. Aromanya menghantam gue—bau asap dan kayu yang tajam. “Dan gue nggak suka yang gue denger.”
Rasa memiliki menyusup di tiap katanya, pekat dan berat.
Perut gue berputar dengan cara yang bikin gue muak karena gue tahu persis arti semua ini.
“Lo nggak punya hak atas gue.”
Dia mencondongkan tubuh, seperti selalu. Bibirnya menyapu daun telinga gue.
“Oh, punya.”
Gue menggigil.
Jarinya meraih pergelangan tangan gue, ibu jarinya membuat lingkaran pelan di atas denyut nadi gue. Napas gue nyangkut. Dia selalu begini—membuka gue pelan-pelan, gampang banget.
“Lo nggak bisa nyeret gue pergi tiap kali ada orang nyebut—”
Mulutnya melengkung di rahang gue.
“Bisa.”
Jantung gue menggedor.
Bangsat arogan.
Luna Elara dari Kelompok Bulan Sabit memergoki perselingkuhan suaminya dengan saudara perempuannya sendiri, lalu dijebloskan ke ruang bawah tanah, tempat keputusasaan membangunkan garis darah peramal dalam dirinya. Alpha dingin bernama Axel menyeretnya pergi untuk menyelamatkan ibunya yang sekarat—Luna muak dengan tiraninya, Axel jijik pada pembangkangannya, dan sejak pertemuan pertama mereka sudah saling siap menerkam.
Meski saling membenci, mereka berkali-kali menyelamatkan satu sama lain di ambang hidup dan mati; meski terus beradu, mereka juga yang menutup luka masing-masing saat malam mengental dan sunyi menelan segalanya. Luna yakin Axel cuma pemanfaat lain seperti mantan suaminya, sementara Axel percaya Luna takkan pernah benar-benar peduli padanya.
Sampai malam bulan darah, ketika Luna menangkis bilah mematikan yang ditujukan untuk Axel. Sampai detik di antara hidup dan mati, ketika Axel mengkhianati semua prinsipnya demi dia—barulah mereka sadar, terpukul, bahwa jeratan yang lahir dari kebencian itu sudah lama berubah jadi pengabdian yang tak bisa dilepaskan.
Ketika kuil kuno menuntut korban darah, ketika musuh mengepung dari segala arah, bisakah dua orang yang dulu saling memusuhi ini menelan prasangka mereka dan menghadapi takdir bersama—atau mereka akan saling mengkhianati lagi di detik terakhir?

