Terikat oleh Ketegangan
211 Dilihat · Selesai · Katherine Petrova
Maaf, aku nggak bisa membantu menulis atau mengubah konten seksual yang eksplisit seperti itu.
Cassandra Rhodes punya semua kemewahan yang bisa dibeli uang, tapi tetap ada ruang kosong di dadanya yang nggak pernah terisi. Di rumahnya yang serba rapi dan mahal, kesunyian terasa seperti barang tetap—menempel di dinding, mengendap di sela-sela percakapan, ikut duduk di meja makan.
Ayahnya, Blake Rhodes, selalu bicara seakan hidup ini cuma soal dua hal: kekayaan dan nama keluarga. “Warisan itu bukan cuma soal uang,” begitu kalimat yang sering ia ulang, nada suaranya datar tapi menekan. Cassandra sudah hafal—setiap pilihan harus punya nilai, setiap langkah harus menguntungkan, dan setiap hubungan harus bisa dijadikan pijakan.
Itulah sebabnya Caden Stiles selalu muncul dalam pembicaraan mereka, seperti calon yang sudah ditentukan sejak awal. Pewaris konglomerat, tampan di majalah, kaya raya, dan—meski semua orang pura-pura tidak melihatnya—terkenal gampang berpaling. Cassandra pernah mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu harga yang wajar untuk hidup yang “mapan”. Tapi tiap tahun berlalu, rasa sepinya justru makin tajam, seperti ujung jarum yang pelan-pelan mencari celah.
Sampai suatu malam, di sebuah gala penggalangan dana yang penuh kilau lampu dan tawa yang terdengar dibuat-buat, Cassandra bertemu Asa Rivers.
Asa bukan tipe pria yang sibuk memastikan jasnya terlihat mahal atau namanya disebut-sebut. Ia datang dengan cara yang sederhana, tapi matanya tajam, seolah ia benar-benar hadir, bukan sekadar lewat. Saat mereka berbicara, Cassandra mendapati dirinya tidak sedang “diwawancarai” atau dipuja karena status. Asa bertanya hal-hal yang biasanya tak ada orang peduli menanyakan padanya—tentang apa yang ia suka, apa yang membuatnya jengah, apa yang selama ini ia simpan sendiri.
Ia juga lucu, tanpa perlu berusaha keras. Tulus, tanpa kelihatan memamerkan ketulusan. Dan yang paling aneh—ia sama sekali tidak terkesan oleh nama Rhodes. Ia memperlakukan Cassandra seperti manusia, bukan lambang kemewahan.
Di tengah keramaian yang biasanya membuatnya merasa makin sendirian, Cassandra merasakan sesuatu yang hangat menyala pelan, sesuatu yang nyaris ia lupa pernah ada. Bukan kegembiraan yang riuh, melainkan semacam keyakinan yang tenang: bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, ada orang yang melihatnya dengan benar.
Dan dari tatapan Asa yang tak berusaha menaklukkan maupun menghindar, Cassandra menangkap percikan yang tak pernah ia kenal sebelumnya—seperti pintu yang selama ini terkunci, tiba-tiba terbuka sedikit.
Cassandra Rhodes punya semua kemewahan yang bisa dibeli uang, tapi tetap ada ruang kosong di dadanya yang nggak pernah terisi. Di rumahnya yang serba rapi dan mahal, kesunyian terasa seperti barang tetap—menempel di dinding, mengendap di sela-sela percakapan, ikut duduk di meja makan.
Ayahnya, Blake Rhodes, selalu bicara seakan hidup ini cuma soal dua hal: kekayaan dan nama keluarga. “Warisan itu bukan cuma soal uang,” begitu kalimat yang sering ia ulang, nada suaranya datar tapi menekan. Cassandra sudah hafal—setiap pilihan harus punya nilai, setiap langkah harus menguntungkan, dan setiap hubungan harus bisa dijadikan pijakan.
Itulah sebabnya Caden Stiles selalu muncul dalam pembicaraan mereka, seperti calon yang sudah ditentukan sejak awal. Pewaris konglomerat, tampan di majalah, kaya raya, dan—meski semua orang pura-pura tidak melihatnya—terkenal gampang berpaling. Cassandra pernah mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu harga yang wajar untuk hidup yang “mapan”. Tapi tiap tahun berlalu, rasa sepinya justru makin tajam, seperti ujung jarum yang pelan-pelan mencari celah.
Sampai suatu malam, di sebuah gala penggalangan dana yang penuh kilau lampu dan tawa yang terdengar dibuat-buat, Cassandra bertemu Asa Rivers.
Asa bukan tipe pria yang sibuk memastikan jasnya terlihat mahal atau namanya disebut-sebut. Ia datang dengan cara yang sederhana, tapi matanya tajam, seolah ia benar-benar hadir, bukan sekadar lewat. Saat mereka berbicara, Cassandra mendapati dirinya tidak sedang “diwawancarai” atau dipuja karena status. Asa bertanya hal-hal yang biasanya tak ada orang peduli menanyakan padanya—tentang apa yang ia suka, apa yang membuatnya jengah, apa yang selama ini ia simpan sendiri.
Ia juga lucu, tanpa perlu berusaha keras. Tulus, tanpa kelihatan memamerkan ketulusan. Dan yang paling aneh—ia sama sekali tidak terkesan oleh nama Rhodes. Ia memperlakukan Cassandra seperti manusia, bukan lambang kemewahan.
Di tengah keramaian yang biasanya membuatnya merasa makin sendirian, Cassandra merasakan sesuatu yang hangat menyala pelan, sesuatu yang nyaris ia lupa pernah ada. Bukan kegembiraan yang riuh, melainkan semacam keyakinan yang tenang: bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, ada orang yang melihatnya dengan benar.
Dan dari tatapan Asa yang tak berusaha menaklukkan maupun menghindar, Cassandra menangkap percikan yang tak pernah ia kenal sebelumnya—seperti pintu yang selama ini terkunci, tiba-tiba terbuka sedikit.


