Sang Penakluk
1.1k Dilihat · Selesai · Caelum Cayden
❤️🔥Obsesi Redaksi Bulan Ini: Kisah cinta yang sepedih itu, sekaligus seindah itu—melewatkannya rasanya seperti dosa.❤️🔥
Dia melupakannya. Dia tak pernah melupakan dia.
Deru ombak masih sanggup menyeret Alya jatuh ke dalam ingatan tentang Leon—tentang bagaimana lelaki itu mengejarnya di bibir pantai, tentang bagaimana ia mengangkat tubuhnya begitu mudah sampai Alya cekikikan, menggeliat dalam pelukannya. Alya masih bisa merasakan dinginnya cahaya bulan menempel di pasir yang basah, masih mengingat malam ketika Leon menyentuhnya dengan cara yang membuat dunia seolah berhenti, seolah mereka memang ditakdirkan selamanya. Mereka dulu muda, liar, dan bebas. Mereka adalah masa lalu.
Alya tak pernah berniat kembali ke dunianya.
Tapi ketika anakmu sekarat, dan hanya ada satu orang di kota ini yang cocok sumsum tulangnya untuk menyelamatkannya, pilihan berubah jadi kemewahan yang tak bisa kau bayar.
Zaley Raines. Penguasa paling berbahaya di kota. Dingin. Tak tersentuh. Mematikan. Dan satu-satunya harapan putrinya.
Dia setuju membantu—tapi tatapannya menggantung di wajah Alya, seperti sedang mengais sesuatu yang terkubur jauh. Hantu yang terlupa. Kenangan yang dicuri. Dia tidak mengenalinya.
Namun Alya tahu persis siapa dia.
Leon. Cinta pertamanya. Ayah dari putrinya. Anak lelaki yang dulu berjanji akan menariknya keluar dari keputusasaan—sebelum ingatannya dicuri, ditulis ulang, dihapus.
Ada sesuatu pada Alya yang mencengkeram Zaley, akrab sekaligus menghabiskan. Dia menginginkan jawaban. Alya tak bisa memberikannya. Tidak ketika kebenaran bisa meremukkan semua yang telah mereka bangun dari abu kehilangan.
Tapi ketika serpihan mulai muncul—kilatan sesosok perempuan berambut merah dalam pelukannya, janji-janji yang ditulis di pasir, cinta yang bahkan tak ia ingat pernah kehilangannya—Zaley berhenti bertanya.
Dia mulai merebut jawaban.
Dan saat akhirnya dia mengingat semuanya, bahaya yang sebenarnya baru dimulai.
Dia melupakannya. Dia tak pernah melupakan dia.
Deru ombak masih sanggup menyeret Alya jatuh ke dalam ingatan tentang Leon—tentang bagaimana lelaki itu mengejarnya di bibir pantai, tentang bagaimana ia mengangkat tubuhnya begitu mudah sampai Alya cekikikan, menggeliat dalam pelukannya. Alya masih bisa merasakan dinginnya cahaya bulan menempel di pasir yang basah, masih mengingat malam ketika Leon menyentuhnya dengan cara yang membuat dunia seolah berhenti, seolah mereka memang ditakdirkan selamanya. Mereka dulu muda, liar, dan bebas. Mereka adalah masa lalu.
Alya tak pernah berniat kembali ke dunianya.
Tapi ketika anakmu sekarat, dan hanya ada satu orang di kota ini yang cocok sumsum tulangnya untuk menyelamatkannya, pilihan berubah jadi kemewahan yang tak bisa kau bayar.
Zaley Raines. Penguasa paling berbahaya di kota. Dingin. Tak tersentuh. Mematikan. Dan satu-satunya harapan putrinya.
Dia setuju membantu—tapi tatapannya menggantung di wajah Alya, seperti sedang mengais sesuatu yang terkubur jauh. Hantu yang terlupa. Kenangan yang dicuri. Dia tidak mengenalinya.
Namun Alya tahu persis siapa dia.
Leon. Cinta pertamanya. Ayah dari putrinya. Anak lelaki yang dulu berjanji akan menariknya keluar dari keputusasaan—sebelum ingatannya dicuri, ditulis ulang, dihapus.
Ada sesuatu pada Alya yang mencengkeram Zaley, akrab sekaligus menghabiskan. Dia menginginkan jawaban. Alya tak bisa memberikannya. Tidak ketika kebenaran bisa meremukkan semua yang telah mereka bangun dari abu kehilangan.
Tapi ketika serpihan mulai muncul—kilatan sesosok perempuan berambut merah dalam pelukannya, janji-janji yang ditulis di pasir, cinta yang bahkan tak ia ingat pernah kehilangannya—Zaley berhenti bertanya.
Dia mulai merebut jawaban.
Dan saat akhirnya dia mengingat semuanya, bahaya yang sebenarnya baru dimulai.

