CEO Penguntitnya dan Pasangan Kesempatan Keduanya
983 Dilihat · Selesai · Lilly W Valley
Aku berhenti di depan pintu ruang rapat yang setengah terbuka, berusaha menyeimbangkan nampan berisi beberapa gelas kopi. Creedon adalah bos baruku—sekaligus pacarku sekarang. Aku menahan napas, mendengarkan dari balik pintu.
“Mana cewek murahanmu itu, Creedon? Pasti jago banget di ranjang. Kopinya keburu dingin,” gerutu Michael. “Ngapain sih lo pelihara? Dia aja bukan dari kalangan lo.”
Bukan dari kalangannya?
“Lo juga tahu gue,” jawab Creedon santai. “Gue suka aksesori yang bagus. Lagian, dia lebih pintar daripada kelihatannya.”
Aksesori?
“Berhenti mainin itu anak,” suara Michael kembali, kali ini lebih tajam. “Lo biarin dia terlalu dekat sama kita. Belum lagi skandal yang bakal lo dapat dari media begitu mereka sadar dia cuma anak kampung miskin. Orang-orang bakal jatuh cinta sama ceritanya, terus lo hancurin semuanya begitu lo selesai sama dia. Citra lo—” Bunyi kepalan menghantam meja memotong kata-katanya, membuat ruangan mendadak senyap.
“Dia milik gue!” ledak Creedon. “Bukan urusan lo. Gue bisa ngentot dia, ‘membiakkan’ dia, atau nendang dia kapan aja—ingat siapa yang pegang kendali di sini. Kalau gue mau pake dia cuma buat nampung sperma, ya gue lakuin.”
Membiakkanku? Nendang aku? Nampung sperma? Mimpi.
“Dia memang cantik, tapi nggak ada nilainya buat lo, Creedon. Kerikil di lautan berlian, Sayang,” Latrisha menyahut, suaranya sinis seperti ludah. “Lo bisa dapat perempuan mana pun yang lo mau. Ngentot aja sampai puas, terus coret namanya. Yang satu itu bakal jadi duri di pantat lo. Lo butuh jalang yang nurut.”
Tolong, ada yang pel lantai. Mulut perempuan ini baru aja muntah kata-kata.
“Gue bisa ngendaliin dia, Trisha,” kata Creedon, dingin. “Mundur, anjing.”
Ngendaliin? Oh, nggak bakal.
Dia belum pernah ketemu sisi “nggak makan omong kosong” yang bisa keluar dari diriku.
Amarah mendidih di dada saat siku kananku mendorong pintu hingga terbuka.
Ya sudah. Biar sekalian.
“Mana cewek murahanmu itu, Creedon? Pasti jago banget di ranjang. Kopinya keburu dingin,” gerutu Michael. “Ngapain sih lo pelihara? Dia aja bukan dari kalangan lo.”
Bukan dari kalangannya?
“Lo juga tahu gue,” jawab Creedon santai. “Gue suka aksesori yang bagus. Lagian, dia lebih pintar daripada kelihatannya.”
Aksesori?
“Berhenti mainin itu anak,” suara Michael kembali, kali ini lebih tajam. “Lo biarin dia terlalu dekat sama kita. Belum lagi skandal yang bakal lo dapat dari media begitu mereka sadar dia cuma anak kampung miskin. Orang-orang bakal jatuh cinta sama ceritanya, terus lo hancurin semuanya begitu lo selesai sama dia. Citra lo—” Bunyi kepalan menghantam meja memotong kata-katanya, membuat ruangan mendadak senyap.
“Dia milik gue!” ledak Creedon. “Bukan urusan lo. Gue bisa ngentot dia, ‘membiakkan’ dia, atau nendang dia kapan aja—ingat siapa yang pegang kendali di sini. Kalau gue mau pake dia cuma buat nampung sperma, ya gue lakuin.”
Membiakkanku? Nendang aku? Nampung sperma? Mimpi.
“Dia memang cantik, tapi nggak ada nilainya buat lo, Creedon. Kerikil di lautan berlian, Sayang,” Latrisha menyahut, suaranya sinis seperti ludah. “Lo bisa dapat perempuan mana pun yang lo mau. Ngentot aja sampai puas, terus coret namanya. Yang satu itu bakal jadi duri di pantat lo. Lo butuh jalang yang nurut.”
Tolong, ada yang pel lantai. Mulut perempuan ini baru aja muntah kata-kata.
“Gue bisa ngendaliin dia, Trisha,” kata Creedon, dingin. “Mundur, anjing.”
Ngendaliin? Oh, nggak bakal.
Dia belum pernah ketemu sisi “nggak makan omong kosong” yang bisa keluar dari diriku.
Amarah mendidih di dada saat siku kananku mendorong pintu hingga terbuka.
Ya sudah. Biar sekalian.

